Kamis, 18 Agustus 2016

I Don't Even Understand What I Want

"Jadi sebenarnya maumu apa?" pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sudah berminggu-minggu ini aku tanyakan kepada diriku sendiri. Dan sejujurnya, sampai detik ini aku pun tidak bisa menjawabnya. Karena aku tidak tahu apa yang aku mau. Aku tidak bisa menerima perasaanmu, namun aku tidak ingin kehilanganmu sebagai seorang teman dekat. Aku masih ingin dekat dan menghabiskan waktu denganmu, namun aku tidak ingin memberimu harapan. Lalu, aku harus apa? Apalagi setelah belakangan ini hubungan kita jelas-jelas berubah. Kamu berubah, sementara aku pun semakin tidak memahami hatiku. Dalam sehari aku ingin kita bisa sedekat dulu. Namun di hari berikutnya aku tidak ingin bertemu denganmu. Bahkan aku tidak bisa memahami hatiku sendiri.
Kadang aku berterimakasih karena kamu kembali menghadirkan kupu-kupu di hatiku. Namun kadang semua terasa terlalu menyakitkan, dan aku ingin semua kupu-kupu ini mati saja. Sampai belakangan ini aku tidak lagi merasa ada kupu-kupu di hatiku. Aku hanya merasa kosong, kesepian. Dan aku berharap kita bisa kembali seperti dulu lagi. Obrolan itu, tawa itu, segala pesan singkat itu.
Tapi kemudian aku sadar, mungkin kita memang tidak seharusnya bersama. Karena aku sudah bersamanya. Dan aku pun terlalu peduli padamu untuk menyakitimu. Untuk seegois itu membiarkan kamu mendekatiku tanpa ada sedikitpun rasa akan menerima perasaanmu. Atau mungkin aku hanya takut pada diriku sendiri? Aku takut aku tidak akan bisa bertahan bila kamu terus ada di sana. Bila kita terus bersama. Mungkin akan ada hati yang terluka. Dan maafkan aku karena memilih dia. Sementara aku tahu, sebagian hatiku ada padamu.

Senin, 05 Oktober 2015

Once Again, I Failed

Kali ini aku tidak akan bercerita tentang kamu. Aku akan bercerita tentang aku dan keluargaku, yang sesungguhnya sangat ingin aku ceritakan ke kamu, tapi sayangnya saat aku membuka mulut kamu lebih sibuk dengan HPmu dan tidak memperhatikan kata-kata yang kukeluarkan. Karena itu aku memilih bungkam dan menelan semuanya sendiri.
Ya tapi aku sadar, mungkin terlalu egois untuk memintamu mendengar tentang beban dan tekananku di saat aku pun tahu bahwa tekananmu jauh lebih besar. Karena itu, aku pun memaksa diriku untuk bungkam. Walau mungkin bila aku memaksamu mendengar aku yakin kamu akan mendengarnya.
Kamu tau mengapa aku menangis tadi malam? Mengapa aku yang biasanya begitu optimis bisa selemah itu hanya gara-gara satu penolakan? Tidak perlu lah kamu bilang tentang pekerjaan sama dengan jodoh, bahwa pekerjaan yang terbaik sudah digariskan oleh Allah, dan berarti di sana bukan yang terbaik bagiku. Aku sudah tau. Aku paham. Dan sampai detik ini pun aku berusaha ikhlas. Hari ini, perlahan aku mulai bangkit dan mencari ladang pencaharian baru.
Tapi kemarin, aku baru tau tekanan apa yang sebenarnya aku miliki, tekanan yang tidak pernah aku ketahui. Tekanan untuk melindungi keluargaku, karena itu aku harus segera bekerja. Paling tidak agar keluarga besarku tahu, aku tidak lagi meminta uang dari orang tuaku.
 Selama ini aku tidak pernah tau mereka menekan kakakku. Mencibirnya karena ia memilih bersekolah lagi daripada bekerja. Tanpa mereka ketahui ia sudah melakukan segala upaya yang ia bisa untuk mencari pekerjaan. Namun ia hanya belum beruntung. Dan apa yang mereka lakukan? Mencibir pilihannya. Dan karena itu mereka mulai mendukungku. Aku yang dulunya bukan apa-apa, hanya anak yang tomboy dan sering bertingkah seenaknya. Mereka mulai mendukungku, namun mereka akan menentangku mati-matian bila aku berkata, aku akan sekolah lagi.
Kenapa mereka terus menentang di saat orang tuaku sendiri bahkan membebaskan segala pilihan kami? Di saat mereka sendiri tidak pernah ambil pusing apakah kami akan sekolah atau bekerja. Karena mereka percaya apa pun yang kami lakukan, akan kami lakukan dengan cara yang terbaik. Dan apa pun yang kami lakukan, kami akan bertanggung jawab akan pilihan itu.

Sabtu, 22 Agustus 2015

I Fell In Love, with The Girl I Don't Know

Hello again. It's been a long time. Aku selalu menulis saat kami memiliki masalah. Dan selama sekian bulan terakhir aku tidak menulis, bukan berarti aku tidak memiliki masalah dengannya. Kami masih sama, masih terkadang ribut karena hal kecil. Dia pun masih sama, masih sering jarang memberi kabar. Begitu pun aku masih sama, masih menangis karena hal kecil. Lalu ada apa lagi hari ini sampai aku memutuskan kembali menulis? Sudah lama sebenarnya aku ingin kembali menulis, tapi segala kesibukan dan kemageran menjadi penghambat. Dan hari ini pun aku ingin menulis bukan karena lagi-lagi kami bermasalah, walau ya, saat tulisan ini diketik aku sedang menangis. Kita skip saja alasan tangisan itu, mungkin akan kutulis lain kali.
Hari ini aku baru pertama kali mendengar nama Lang Leav. Hmm sebenarnya aku ragu ini untuk pertama kalinya karena saat aku membaca beberapa puisinya, rasanya terdengar akrab, tapi untuk hari ini pertama kalinya aku sadar tentang Lang Leav. Bahkan terbersit untuk membeli buku kumpulan puisinya dan menyesal, kenapa waktu ke Singapura kemarin tidak mencari buku Lang Leav yg notabene harganya lebih murah dibanding di Indonesia? Namun kemudian aku terpengaruh komentar negatif review buku Lang Leav dan merasa, hmm di pinterest banyak quotesnya kok, baca di pinterest saja, dan lagi tidak semua puisinya aku suka haha. Memang tidak semuanya aku suka, tapi ada beberapa puisi yg sangat aku sukai, hingga rasanya ingin aku cetak dan pasang di dinding kamar wkwkwk. Untuk ulangtahunku, kalau ada yg bersedia memberi buku Lang Leav, akan kuterima dengan senang hati! Hahaha.
And here there are some Lang Leav paragraph that I love. Yeah, I am not into her poem, but I am falling in love with here paragraph of broken heart. It clearly said everything every broken hearted girl can't say.





"You may have lost them suddenly, unexpectedly. Or perhaps you began losing pieces of them until one day, there was nothing left. ... And though I can't promise it will get better any time soon, I can tell you that it will -- eventually." - Lang Leav

Ini adalah paragraf pertama Lang Leav yang membuatku jatuh cinta pada tulisannya. Aku tersentil dengan kenyataan bahwa nyatanya kehilangan ada dua jenis. Kehilangan yang tiba-tiba, dan kehilangan yang perlahan. Jujur bagiku kehilangan yang tiba-tiba lebih terasa menyakitkan, karena tanpa penjelasan, tanpa kesempatan untuk menariknya kembali. Sementara kehilangan yang perlahan, selalu ada kesempatan untuk menyiapkan hati, untuk mencegahnya, dan untuk menariknya kembali. Tapi yang manapun, tidak ada yang pernah bilang bahwa patah hati tidak menyakitkan. Siapa yang berani bilang begitu? Mungkin ia belum pernah merasakan perihnya patah hati. Karena tidak ada obat penghilang rasa sakitnya, karena sakitnya tidak nampak sampai kita tidak tahu bagian mana yang harus diobati. Namun bagaimanapun, sesakit-sakitnya, akan selalu ada masanya kita terbangun tidak lagi dengan air mata, melainkan rasa ikhlas dan rasa sakit itu perlahan akan hilang, mungkin bukan karena kita sudah sembuh, tapi karena kita sudah terbiasa dengan pedihnya.


I smiled when read this paragraph. Iya senyum, senyum miris. Karena seluruh paragraf ini sangat sesuai dengan keadaanku sekarang. Detik ini. Bukan atas air mata yang aku sebutkan tadi. Sekarang aku sedang di tengah-tengah kesibukan pindahan. Dan itulah ajaibnya pindahan, selalu ada hal-hal yang sudah kita lupakan mendadak muncul kembali. Dan ada juga hal-hal yang penuh kenangan namun harus kita ikhlaskan. Masih ingat ceritaku dengan Nino? Aku menemukan beberapa lembar berkas saat kami sama-sama menjadi panitia. Dan aku hanya tersenyum mengingatnya. Mengingat saat-saat itu. Saat kami sama-sama sibuk, saat aku adalah tempatnya bersandar, saat dia adalah tempatku bercerita. Dan mungkin, mungkin, sekarang bagi dia pun aku hanyalah catatan usang yang terlupakan di bagian bawah laci, atau selembar foto tua yang ada di sela-sela halaman buku.




Saat membaca ini aku langsung teringat kamu. Kamu yang membuatku lupa bagaimana rasanya kehilangan. Dua tahun bersama kamu, aku merasa aman, karena walau kadang kamu pergi sementara, namun kamu tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Aku sudah lupa bagaimana rasanya sakit hati karena kehilangan, sakit yang membuatku tidak bisa berhenti menangis, seperti yang dulu pernah aku rasakan. Dan saat aku membaca ini, sekian bagian hatiku bagai diremas. Aku sedikit mengingat rasa sakitnya, dan aku tau, apabila aku kehilanganmu rasa sakitnya pasti akan seperti ini. Seperti semua ucapan selamat tinggal yang dikumpulkan jadi satu, dan dilempar ke wajahku dengan keras. Mungkin itu akan jadi ucapan selamat tinggal paling menyakitkan. Jadi tolong, jangan pernah pergi, jangan pernah meninggalkanku, karena aku tidak akan pernah mau tau rasanya kehilanganmu.




Sekali lagi, paragraf ini menyentilku. Tentang mencintai seseorang lebih dalam daripada kamu mencintai dirimu sendiri. Dan memang, setimpal dengan rasa bahagianya, apabila orang itu juga mencintaimu kembali, rasa sakitnya pun sama banyaknya. Itu sama saja dengan mengorbakan jiwamu untuk orang itu, membiarkannya mempermainkan hatimu semaunya. Walau ia juga mencintaimu, tidak ada jaminan ia mampu menjaga hatimu sebaik kamu menjaga hatimu sendiri. Bisa bayangkan sakitnya? Bagai kaki patah seorang balerina, yang sangat mencintai balet hingga baginya kakinya itu tidak ada apa-apa dibanding besar rasa cintanya. Bisa bayangkan perihnya? Namun bagaimanapun, walau tau bagaimana perihnya, aku pun masih sama, masih tetap mencintai kamu lebih daripada mencintai diriku sendiri. Dan walau aku teorinya, nyatanya aku membiarkan kamu menyakiti hatiku, karena kadang kamu tidak tau bagaimana cara terbaik menjaganya, tidak sebaik aku menjaga hatimu. Dan ya, mungkin aku harus belajar mencinta diriku sendiri, agar kamu tidak lagi bisa mempermainkan hatiku.

Rabu, 21 Januari 2015

Selamat Datang, 2015!

10 Januari 2015. Terlambat sepuluh hari sebenarnya untuk mengucapkan selamat datang kepada tahun yang baru ini. Tapi yasudahlah, daripada tidak diucapkan sama sekali haha. Sebenarnya saya bukan tipe orang yang merayakan tahun baru. Tahun ini pun sama, hanya duduk di depan laptop sambil mengerjakan proposal tugas akhir dan mendengarkan gemuruh terompet dan kembang api di kejauhan. Agak kesal sebenarnya, saya sedang serius merajut masa depan dan mereka di luar sana bisa dengan santainya bermain dengan sangat berisik. Tapi apa daya, mereka pun punya hak untuk bersenang-senang.
Tahun 2015 ini adalah tahun yang besar bagi saya. Karena setelah hampir empat tahun menikmati kehidupan yang tenang dan nyaris lempeng-lempeng saja, tahun ini akan ada beberapa perubahan. Perubahan besar. Dan karena itu sejak baru memasuki tahun 2015 saya sangat tidak exited. Saya tidak menyukai perubahan. Saya termasuk tipe orang yang selalu merasa aman di zona nyaman, dan memilih untuk tetap berada di sana sampai waktunya untuk keluar. Such a plegmatist, am I?
Tahun ini, bila segala hal lancar dan tanpa hambatan, saya akan lulus kuliah (aamiin). Dan walaupun belum sepenuhnya siap, sama sekali tidak ada keinginan untuk menunda kelulusan bagi saya. Saya tidak ingin membebani orang tua saya dengan harus kembali membayar SPP. Saya ingin segera bisa menghasilkan uang sendiri, lalu menyenangkan mereka dengan hasil yang saya dapatkan dari kerja keras saya. Selain itu, saya ingin segera menikah. Bukan berarti setelah lulus maka saya akan langsung menikah, sama sekali bukan. Saya masih memiliki banyak mimpi sebelum menikah nantinya. Namun setidaknya lulus kuliah berarti saya semakin dekat satu langkah untuk menikah.
Lalu apa yang sudah saya lakukan untuk menuju kelulusan itu? Apa yang sudah saya siapkan? Sejujurnya, saya masih merasa belum siap. Saya masih merasa terseok menjalani semester enam ini. Melakukan tugas dengan sebisanya saja, tidak superior, tidak benar-benar bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang maksimal. Belakangan ini saya semakin merasa ingin menyerah. Saya ingin segera lulus namun saya juga lelah dan ingin ini semua segera berakhir. Konyol, kan? Nilai semester 6 saya sudah keluar 8 SKS, dan hasilnya standar. Sangat standar, tidak sebaik harapan saya. Tapi saat mengingat usaha saya, ini sudah sangat bagus. Alhamdulillah. Masih ada 13 SKS lagi yang harus didoakan, dan saya ketakutan. Bagaimana bila nilai saya buruk? Nantinya saya akan kesulitan mendapatkan pekerjaan saat lulus nanti. Namun bagi saya, sudah tidak ada cara untuk mengubah semester ini selain dengan doa. Jadi saya hanya terus berdoa.
Saya sangat menantikan hari kelulusan, hari saat saya bisa membanggakan kedua orang tua saya. Namun setelah lulus, lalu bagaimana? Saya masih tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Semuanya masih abu-abu. Karena sesungguhnya keinginan saya dan orang tua saya tidak sejalan. Sebagai yang sudah membiayai pendidikan saya selama ini, kedua orang tua saya pasti menginginkan pekerjaan yang baik bagi saya. Namun pekerjaan yang baik itu harus dibarengi dengan nilai yang baik pula. Alhamdulillah, nilai saya memang baik, namun dengan desain saya yang sangat standar, saya ragu ada konsultan yang mau mempekerjakan saya. Sebagai drafter, mungkin iya. Tapi tidak sebagai junior architect. Namun masa iya, kuliah empat tahun hanya sebagai drafter? Saya mulai putus asa.
Mungkin semuanya akan menjadi lebih mudah bila saya memang mencintai dunia arsitektur. Namun saya hanya menyukainya, tidak pernah lebih. Saya hanya suka melihat bangunan-bangunan indah, namun saya tidak suka bila harus merancang bangunan dengan keindahan yang sama. Saya merasa tidak mampu. Dan saya tidak tahu harus apa. Selama 3,5 tahun ini saya sudah berusaha jatuh cinta pada arsitektur, namun nyatanya saya tidak bisa. Saya menyerah harus jatuh cinta pada arsitektur.
Dengan tidak adanya minat dan bakat di dunia arsitektur, saya merasa akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Karena itu saya merasa saya harus memiliki nilai lebih untuk mendapat pekerjaan yang layak. Misalnya dengan memperpanjang nama saya dengan tambahan gelar MT di belakangnya. Iya, saya memang tidak mencintai arsitektur, tapi belajar dua tahun lagi rasanya lebih baik daripada harus bekerja di konsultan arsitektur, duduk di depan meja 8 jam sehari dengan rasa jenuh yang terus menumpuk setiap harinya. Saya sudah pernah melakukannya dan rasanya saya tidak sanggup harus begitu lagi. Lalu kenapa saya malah ingin kuliah lagi? Banyak alasan sebenarnya, selain memperpanjang nama. Salah satunya adalah untuk melarikan diri. Melarikan diri dari pertanyaan tentang pekerjaan, melarikan diri dari tekanan untuk bekerja di bidang arsitektur yang tidak saya sukai. Dengan harapan, setelah dua tahun kuliah, orang tua saya akan membebaskan pilihan karir saya, tidak harus di dunia arsitektur seperti yang mereka tekankan saat ini. Diam-diam ada juga harapan setelah meninggalkan Indonesia selama dua tahun, saat saya kembali nanti pacar saya sudah memiliki pekerjaan tetap dan siap untuk melamar saya. Setelah saya menikah, saya rasa orang tua saya akan lebih membebaskan saya untuk melakukan pekerjaan yang saya suka. Dan lagi, banyak orang yang bilang uang beasiswa itu besar nominalnya. Dan hal itu cukup menggiurkan, kan? Haha.
Tapi ada banyak hal yang harus saya siapkan sebelum saya benar-benar akan apply beasiswa S2 di luar negeri. Salah satunya adalah TOEFL. Terakhir saya tahu TOEFL saya masih 483, masih jauh dari standar terendahnya yang 500. Karena itu resolusi saya adalah mencapai TOEFL 500 secepatnya. Saya harus semakin rutin berlatih TOEFL mulai sekarang. Target saya adalah mulai membeli buku TOEFL untuk membuat saya terbiasa dengan soal-soal TOEFL. lalu saya akan tes TOEFL di kampus pada bulan Februari. Bila TOEFL saya sudah mencapai 500 pada saat itu, maka semuanya selesai. Namun bila tidak, saya akan mulai mengikuti led TOEFL dan rutin mengikuti tes satu bulan sekali sampai saya mencapai target. Ahya! Dan saya harus segera mengurus SKEM pada bulan Februari. Paling tidak semua urusan yudisium itu sudah harus beres di Februari agar saya tidak lagi disusahkan oleh urusan teknis masalah kelulusan.
Lalu di mana saya akan mengapply beasiswa saya? Sejujurnya sampai detik ini pun saya masih belum yakin dengan pasti. Tapi sejauh ini saya memiliki satu target yang akan saya kejar. Yaitu beasiswa Australia Leadership Awards di University of Western Australia. Nominalnya menggiurkan dan nampaknya beasiswa itu cukup bersahabat dengan pelatihan 'bertahan hidup' sebelum mulai masa perkuliahan. Namun dengan syarat, saya harus mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan secara nyata di negara saya. Double menggiurkan bagi saya karena ada muatan sosial di dalamnya. Menarik!
Dan setelah lulus kuliah nanti, selain apply beasiswa S-2, saya memiliki target lain. Target yang merupakan option apabila saya tidak berhasil apply beasiswa S-2. Apalagi kalau bukan mendapatkan pekerjaan. Berbicara tentang pekerjaan, sangat banyak hal yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih pekerjaan. Karena itu, hasilnya saya memiliki banyak option pekerjaan yang akan saya pilih. Yang pertama, tentu saja saya akan memilih pekerjaan yang saya sukai, dan masih berhubungan dengan bidang ilmu saya, seperti apa yang orang tua saya inginkan. Dan pekerjaan itu adalah menjadi architecture writer. Bekerja di IAAW, atau majalah arsitektur lainnya adalah impian saya. Setidaknya di sana saya 'hanya' harus menulis. Bukannya mendesain, hal yang saya rasa menjadi kelemahan saya. Menjadi penulis arsitektur, dan bekerja di majalah terdengar sebagai ide yang bagus bagi saya. Saya selalu terpikat dengan film mengenai industri majalah. Sebut saja Devil Wears Prada atau 13 Going To 30. Walau saya tau, bekerja di majalah tidak semudah itu, tapi sekali lagi saya tekankan, yang penting saya tidak perlu mendesain. Dan pilihan kedua adalah bekerja di perusahan besar yang menerima lulusan S-1 dengan bidang apapun. Misalnya Pertamina, Bank Indonesia, Bank Mandiri, Sampoerna, dsb. Hal ini adalah impian ibu saya. Ibu saya sangat ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dari beliau. Dan bekerja di perusahaan dengan segala kelebihannya adalah harapan beliau. Sejujurnya saya tidak terlalu tertarik. Namun pekerjaan yang tidak membutuhkan mendesain di dalamnya, kenapa tidak? Dan pilihan lain, yang adalah wajar dengan latar belakang arsitektur saya adalah bekerja di konsultan, kontrakntor, atau developer. Pilihan ini sejujurnya cukup saya hindari. Saya tidak dapat membayangkan bekerja 8 jam sehari (lagi). Mendesain di depan laptop dengan permintaan klien tidak sesederhana apa yang orang lain pikirkan tentang arsitektur. Tapi itulah kehidupan, itulah tiga pilihan pekerjaan saya. Yang saya harapkan, saya bisa mencapai target pekerjaan pertama, apabila saya gagal apply beasiswa S-2 nantinya.
Namun nyatanya hidup tidak sesederhana itu. Sebelum memikirkan bisakah saya mencapai salah satu dari dua target itu, saya mengalami titik di mana saya merasa ragu. Dua pilihan itu, dua mimpi saya, mengharuskan saya untuk berjauhan dengan pacar saya. Dan saya ragu. Kami hampir tidak pernah berjauhan sebelumnya. Kalaupun kadang kami harus terpisah jarak, itu karena libur semester dan hanya selama satu sampai dua bulan. Jadi, tinggal berjauhan, paling tidak selama dua tahun sebelum kami menikah (Insya Allah), bisa kah? Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang bisa tahan dengan hubungan jarak jauh. Tapi lebih daripada itu, saya sesungguhnya tidak bisa mempercayai dia 100 persen. Menyedihkan kan? Menjalani hubungan hampir selama setahun namun masih belum mempercayai pasanganmu? Tapi mau bagaimana lagi, jangan salahkan saya. Saya sudah pernah memberi semua kepadanya. Kesabaran, waktu, kepercayaan, semua yang dia minta. Sampai orang-orang selalu bilang, saya terlalu sabar, saya terlalu baik. Namun apa yang terjadi? Ia bersikap seenaknya. Ia marah karena kesalahan yang kecil, ia berbicara segampangnya seakan saya tidak punya hati, dan ia menghilang sesukanya lalu kembali tanpa merasa berdosa. Jangan salahkan saya bila saat ini saya sudah berada di titik di mana saya merasa lelah. Jadi, mempercayai dia seratus persen? Saya tidak lagi sebodoh itu untuk terus menyakiti hati saya sendiri. Dan dia pun tidak bisa mempercayai saya seratus persen. Mengapa? Karena ia merasa, dengan banyak kekurangan yang saya miliki, maka saya akan selalu butuh bantuan orang lain. Dan pada awalnya pun, kami dekat karena ia sering membantu dan menemani saya dalam banyak hal. Sejujurnya saya membiarkan saja dia dengan pikirannya itu. Paling tidak ia akan merasa insecure, bahwa saya bukan wanita yang bisa dia perlakukan dia seenaknya dan masih selalu membuka hati untuk dia (walau yah, saya seperti itu sebenarnya). Saya tahu, hal ini menjadi racun dalam hubungan kami, dan saya takut jarak akan semakin memperburuknya. Namun saya memiliki mimpi, dan mimpi saya memang mengharuskan saya untuk tinggal berjauhan dengannya. Setidaknya hanya dua tahun, sampai kami menikah nanti. Jadi, yah, demi mimpi saya, demi membanggakan kedua orang tua saya, saya mengambil risiko itu. Risiko besar, dan saya tahu untuk menjaga hubungan kami saya memerlukan usaha yang besar pula. Dan saya berani mengambil risiko itu. Biarlah Allah yang menjaga hati kami masing-masing.
Tapi sebelum dua target besar itu, saya masih memiliki dua target kecil. Dua target kecil yang harus segera saya capai supaya bisa menjadi hal besar nantinya. Yang pertama adalah, menjadi entrepreneur. Membuka toko rajutan saya sendiri. Setelah 3,5 tahun hidup di dunia yang bukan menjadi passion saya, pada akhirnya saya menemukan passion saya. Saya memang mencintai dunia crafting, do it yourself. Karena itu, saya ingin menghasilkan uang dari passion saya tersebut. Saya ingin mengembangkannya menjadi sebuah bisnis yang bisa menopang kehidupan saya, dan kehidupan orang lain. Membuka peluang usaha bagi orang lain dan saya tidak harus bekerja 8 jam kantoran setiap hari. Ke depannya nanti saya akan menjadi ibu bagi anak-anak saya, dan memiliki usaha sendiri akan sangat baik kan? Saya cukup banyak belajar mengenai entrepreneur di tahun ketiga kuliah saya, jadi saya rasa, dengan bantuan dari beberapa pihak, saya akan siap memulai menjadi entrepreneur saat ini.
Bantuan dari berbagai pihak itu, utamanya tentu saja dari pacar saya. Karena saya ingin membangun bisnis ini bersama dia. Kami sudah sejak lama merencanakan memiliki bisnis bersama. Karena kenataannya kami bukan lah pasangan dari keluarga kaya raya. Kami berasal dari keluarga biasa. Dan untuk memiliki kehidupan yang jauh leih baik dari saat ini, kami harus berusaha dari sekarang. Selain itu, sebenarnya saya membuat usaha ini untuk dia. Karena dia memiliki beban finansial dengan jumlah yang tidak sedikit. Dan saya rasa, ini adalah satu-satunya hal yang bisa saya lakukan untuk menolongnya sesegera mungkin, setelah selama ini memiliki bisnis bersama hanya menjadi wacana karena tidak adanya modal dan kami kehabisan ide haha. Dan setelah beban finansialnya selesai, saya bisa menabung keuntungan dari bisnis saya untuk biaya menikah dan kehidupan kami nantinya. Dan setelah bisnis saya besar, saya bisa menjadi full time wife and mother for him and our children, dengan masih memiliki pemasukan dari bisnis saya. Nice dream, huh? Sayangnya, untuk ini kami memiliki pandangan yang berbeda. Ia sudah sangat ambisius dan saya masih ingin membuat bisnis ini sederhana. Bukan berarti saya tidak memiliki cita-cita yang tinggi untuk bisnis saya, namun bagi saya saat ini merajut adalah hobi. Dan saya takut, dengan ambisiusnya ia justru akan menghilangkan kecintaan saya pada dunia rajut nantinya. Untuk saat ini, saya hanya ingin membuatnya tetap sederhana. Yah, karena ini bisnis saya di mana dia yang membantu, lemme be the leader.
Sejauh ini yang saya lakukan baru membuat beberapa karya rajutan untuk didisplay suatu hari nanti. Sisanya, konsep, dan lain-lain, saya serahkan kepada pacar saya. Biar ia yang memikirkan segala konsepnya, dengan persetujuan saya tentunya. Jadi, target saya adalah mematangkan konsep dan segalanya di bulan Februari dan mulai membuka bisnis saya di bulan Maret. Selebihnya, biar kami bicarakan dulu Februari besok.
Lalu target terakhir saya, dan juga target yang menentukan masa depan saya adalah LULUS KULIAH! Menjadi sarjana teknik secepatnya. Insya Allah delapan bulan dari sekarang, bila segalanya lancar. Dan target saya adalah mendapat nilai minimal AB pada Tugas Akhir saya. Selama ini nilai kuliah studio saya stagnan B, karena itu di tugas akhir ini, setidaknya dengan tema yang saya sukai, saya ingin meraih seminimalnya adalah AB. Biarkan tugas ini menjadi masterpiece desain saya, sebelum saya dilepas ke dunia nyata. Dan rencana saya untuk meraih itu? Sederhana saja, rajin asistensi. Kalau bisa setiap hari, dan seminimalnya dua hari sekali. Toh saya sudah tidak memiliki kesibukan lain. Semoga saja semester ini saya bisa.
Jadi, itulah beberapa target saya tahun ini. Semoga segalanya lancar, dan ... SAYA SIAP MENYAMBUT 2015 :)

Kamis, 11 Desember 2014

Mengeluarkan Semua Racun

Malam ini racun-racun di dalam otak dan hati merasa perlu dikeluarkan. Lelah teramat sangat, terlalu lama ditumpuk hingga akhirnya jadi racun yang mengarat. Racun yang paling besar dimulai bulan lalu. Saat kamu tiba-tiba menghilang. Tiba-tiba pergi kemudian mempermaikan hatiku selama dua minggu. Dan saat kamu kembali, apa yang terjadi? Aku bersikap biasa saja, baik-baik saja. Menanggapi sapaan ceriamu dengan senyum. Menanggapi ceritamu dengan anggukan ramah, seakan tidak ada yang terjadi. Padahal siapa yang tau pada saat itu hatiku berdarah? Sejak detik itu, aku tidak pernah baik-baik saja. Aku marah kepada diriku sendiri yang begitu mudahnya menerimamu kembali. Padahal, aku bisa marah dan membentak mereka yang mengalami hal yang sama denganku dan begitu bodohnya masih memaafkan. Dan aku tau, kamu menghilang bukan untuk yang terakhir. Akan ada lagi saat seperti itu, dan aku masih akan menerimamu dengan tangan terbuka.
Tapi tunggu. Nyatanya sebagian hatiku tertutup. Ia lelah disakiti, lelah dengan kamu yang seperti ini. Dan aku kehilangan hampir semua yang membangun hubungan kita dulu, hanya menyisakan cinta. Iya, aku masih mencintaimu, aku masih menyayangi tanpa ragu, tapi aku kehilangan kepercayaan, kehilangan sebagian kepedulian, kehilangan mimpi, dan selalu diburu rasa takut.
Sejak detik itu, aku tidak pernah mempercayaimu sepenuhnya. Semua mimpi itu, semua harapan untuk menikah 2,5 tahun lagi, untuk membangun keluarga bersamamu, aku tidak pernah benar-benar percaya sepenuhnya. Bila dulu aku menelannya mentah-mentah, tidak dengan saat ini. Bagaimana aku bisa percaya kalau sebagian hatiku masih merasa kamu akan kembali menghilang? Bagaimana aku bisa mencita-citakan menghabiskan hidup bersamamu, kalau sebagian otakku sibuk berpikir apa alasan yang akan aku utarakan kepada anak kita nanti saat kamu tidak pulang ke rumah? Dan sejujurnya, sebagai seorang wanita pun ada perasaan tidak percaya yang lebih besar dari itu. Aku tidak percaya kamu mau menghabiskan hidupmu bersamaku, aku yang tidak cantik, tidak seksi seperti yang kamu mau. Dan semua itu cukup menjadi racun untuk membuatku menjaga jarak. Aku juga tidak ingin kehilangan kepercayaan seperti ini. Apalagi sejak terakhir kali itu, aku merasa sebenarnya kamu sudah berubah menjadi lebih baik, hanya saja masih susah melupakan rasa sakit yang aku rasakan. Kamu mungkin tidak tahu, karena pada saat itu hidupmu baik-baik saja, tapi bagiku saat itu hidupku dijungkir balikkan.
Kamu pernah merasakan menangis setiap malam selama dua minggu? Kamu pernah merasakan begitu sedih sampai kamu tidak peduli apa yang ada di sekitarmu? Sampai kamu tidak sadar saat itu dosen sedang menerangkan materi kuliah dan yang kamu lakukan hanya duduk diam dan menangis sendirian. Kamu pernah merasakan menangis histeris di tengah keramaian karena orang yang paling kamu sayangi menganggapmu tidak ada? Kamu pernah merasakan tidak bisa tidur berhari-hari dan pada akhirnya kamu harus minum obat alergi setiap malam hanya karena kamu ingin tidur dan melupakan semuanya? Kamu pernah merasakan sakit hati karena apa yang kamu lakukan nyatanya tidak dihargai? Kamu pernah merasa tidak mampu sendiri, selalu menempel kesana kemari dengan orang lain, karena kamu tau detik saat kamu sendiri, maka detik itu pula kamu akan mulai menangis? Kamu pernah merasakan hidupmu kehilangan arah, bahkan kamu tidak peduli kalaupun pada hari itu kamu sama sekali tidak makan? Kamu pernah begitu lelah menangis, begitu lelah berpikir apa salahmu hingga kamu akhirnya jatuh tidur dalam tangis dan bangun dengan badan yang demam karena terlalu banyak tekanan? Kamu pernah ada di fase begitu lelah dan akhirnya memilih untuk menyendiri, meninggalkan orang-orang dan memilih menghabiskan waktu dengan dirimu sendiri? Aku sudah melewati semua itu, dan banyak luka lainnya, karena kamu. Hanya karena dua minggu itu, aku begitu hancur. Kamu bisa membiarkanku memelukmu dengan hangat pada malam sebelumnya, berkata kamu menyayangiku pada pagi harinya, lalu tiba-tiba menghilang dan berkata sudah tidak mampu bertahan malam harinya. Kemudian seminggu kemudian kamu berkata bahwa kita baik-baik saja dan kamu perlu waktu untuk sendiri. Beberapa hari kemudian kamu berkata bahwa kamu masih menyayangiku dan menyuruhku berhenti menangis. Kamu tau, aku lelah. Sangat. Sangat lelah dengan dramamu mempermaikan perasaanku, dengan dramamu yang pergi minta dicari lalu kembali seakan kamu tidak ada salah. Namun kembali lagi, aku terlalu menyayangimu hingga aku selalu mengalah. Dan akan selalu seperti itu. Tapi aku butuh untuk kembali percaya lagi. Aku tidak mau melanjutkan hidup dengan racun ini setiap hari. Bangun dengan rasa takut kamu akan menghilang. Menghabiskan waktu bersama padahal hati sudah tidak percaya. Aku tidak mau, dan aku tidak akan mampu. Aku takut bila ini terus-terusan berjalan maka akhirnya aku akan menyerah, karena aku bosan.
Tolong, hari ini kembali lah. I need you the most. Aku butuh kamu, tolong peluk aku dan katakan bahwa kita baik-baik saja. Tolong berjanjilah untuk tidak akan kembali menghilang, karena aku sudah lelah dengan racun ini. Karena aku sudah nyaris menyerah berusaha mengeluarkan racun ini sendiri.

Senin, 08 September 2014

Hari Ini, Satu Tahun yang Lalu

Hari ini, satu tahun yang lalu tepat pada jam yang sama saat aku menulis ini, aku mungkin sedang tidur nyenyak tanpa sadar bahwa hari itu aku akan bertemu dengan seseorang yang sangat berharga. Seseorang yang akan menemaniku di tahun-tahun setelahnya, seseorang yang akan membuatku berubah menjadi lebih baik, seseorang itu kamu.
Yang aku ingat, malam itu adalah malam pertama aku kembali ke rantau setelah menghabiskan libur dua bulan di rumah. Malam pertama selalu menjadi yang terberat. Aku masih sangat merindukan rumah, dan masih ada rasa lelah yang tersisa setelah sebelumnya menghadiri rapat tepat setelah aku meletakkan koper yang masih belum tersentuh di kamar kostan. Aku masih belum bisa menerima kenyataan, setelah dua bulan hanya makan-tidur-internetan-bermalas-malasan, aku harus kembali ke rutinitas normal. Kuliah dan rapat hingga malam setiap harinya. Apalagi sebenarnya libur yang kupunya masih bersisa dua minggu, atau bahkan lebih lama. Namun aku harus kembali lebih awal sebagai pertanggung jawabanku sebagai pengurus organisasi dan konseptor ospek jurusan di kampus.
Aku ingat sekali, aku baru kembali ke rantau tanggal 25 Agustus 2013, dan setelah menaruh barang-barang di kostan aku langsung berganti pakaian, sholat Maghrib, lalu berangkat ke kampus untuk menghadiri rapat konseptor ospek jurusan. Aku ingat sambutan yang diberikan saat aku tiba. Anak hilang yang sekian lama tidak hadir rapat karena pulang kampung akhirnya tiba. Dan lalu aku mendapat kabar untuk datang jogging dan sarapan bersama esok harinya bersama pengurus inti organisasi yang kuikuti. Organisasi yang melibatkan kamu di dalamnya.
Dan pagi harinya, pagi hari di tanggal yang sama dengan hari ini, aku sudah berangkat sejak pagi dari kostan. Bersama sahabatku yang adalah ketua organisasi kita. Dan masih belum ada satu orang pun yang datang. Pada akhirnya kamu menjadi orang keempat yang datang hari itu. Kamu datang terlambat. Datang saat matahari sudah tinggi dan sudah tidak mungkin jogging dengan sinar matahari sepanas itu. Kamu dengan sikap serampangan dan menyebalkanmu langsung meminta kunci sekretariat pada kami bertiga yang memilih menghabiskan waktu mengobrol di luar ruang sekretariat. Bahkan saat ketua organisasi kita mengenalkanmu padaku, kamu hanya mengangkat wajah sekilas dengan wajah tidak peduli. Sungguh, dengan sikap seperti itu siapa sangka kita akan menjadi seperti ini sekarang. Siapa sangka kamu ternyata adalah orang yang sangat perhatian. Siapa sangka detik ini, setelah satu tahun berlalu aku sangat menyayangimu.

--- tulisan ini ditulis 26 Agustus 2014 ---

Senin, 25 Agustus 2014

Kembali. Jangan Pergi. Aku Menunggu.

Aku tidak tau harus menuliskan apa. Yang aku tau, aku sudah menangis untuk setidaknya tiga hari. Dan ntahlah, mungkin masih ada hari yang tersisa untuk aku menangis. Aku takut. Hari ini yang aku rasakan hanya takut. Aku takut kehilanganmu. Namun aku juga takut mengekangmu. Memaksamu untuk bertahan di saat keyakinanmu untukku sudah tak bersisa. Aku terlalu mencintaimu. Tanpa sedikit pun keraguan, aku sangat mencintaimu. Sejak dulu, walau orang-orang mempertanyakan hubungan kita, walau mereka bilang kamu kekanakkan, walau mereka ragu kita akan bertahan, aku tidak pernah ragu. Segala alasanmu, segala masalahmu, segala kekurangan yang kamu ceritakan padaku pun tidak membuatku ingin mundur. Aku bertahan untukmu. Aku bertahan dengan segala kekuranganmu. Karena aku cinta. Sesederhana itu. Dan lalu semua menjadi lebih baik. Sangat lebih baik. Segala janjimu, segala rencana masa depan kita, segala doa dan harapan kita untuk masa depan yang lebih baik. Semua hal yang melibatkan 'kita'. Dan lalu badai ini datang. Meremukkan, menghancurkan, dan menggoyahkan. Aku takut kamu goyah. Aku takut kamu ragu dan akhirnya merasa bahwa akan lebih baik kalau tidak ada kita. Aku takut.
Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu. Dan ada begitu banyak perasaan berkecamuk di hatiku. Aku lelah. Jujur ku akui, aku lelah. Aku lelah setiap memejamkan mata selalu ada bayangan hal-hal manis yang telah kita lalui. Aku lelah, setiap suasana terasa sunyi rasanya aku dapat mendengar suaramu dan segala janji manismu. Aku lelah menangisimu terus dan terus. Aku lelah namun aku tidak bisa beristirahat. Aku tidak dapat tidur nyenyak. Bagaimana bisa aku tidur bila hatiku terluka dan selalu menunggu kabar darimu? Bagaimana bisa aku tertidur bila setiap ada suara dari HPku aku selalu terperanjat lalu kembali terluka, karena itu bukan kamu. Sejujurnya, apa yang terjadi? Di manakah kamu? Ada apa denganmu? Tolong jujurlah. Bila masih ada kesempatan untuk kita, mari berjuang bersama. Namun bila sudah tak ada, katakan agar aku tidak terus berharap. Tolong, jangan ada yang disembunyikan. Setidaknya untuk saat ini kita masih sepasang kekasih kan?
Aku tidak tau apa salahku sehingga kau begini. Apa hanya karena keributan kecil hari itu? Hanya karena aku selalu menerima semua keputusanmu tanpa ragu? Hanya karena kamu menganggapku tidak punya pendirian? Hanya karena itu? Atau karena keluhan kesalku sore itu? Keluhan kesal yang sudah kuakhiri dengan maaf namun kamu menyambutnya dengan marah dan diam. Diammu yang berujung sampai hari ini. Empat hari setelah kejadian itu.
Atau hanya karena kamu butuh waktu untuk sendiri? Sendiri untuk merenungkan semua masalahmu. Lalu sebenarnya aku bertanya, apa gunanya aku? Bukankah aku ada di sampingmu untuk membantumu meringankan masalahmu? Atau jangan-jangan kamu terlalu malu membagi masalahmu denganku? Kamu malu dan takut aku pergi karena masalahmu? Bukankah sudah berkali-kali kubilang, tidak pernah terbersit niat untuk pergi seberat apapun masalahmu. Karena kamu adalah sebagian diriku, maka mestinya masalahmu pun dapat kutanggung dan kubantu untuk menyelesaikannya bersama. Namun, seperti biasanya, hari ini pun aku mengalah. Aku mengalah dan membiarkan pesan singkatku hanya dibaca tanpa dibalas. Aku mengalah dan mendukungmu diam-diam dalam doa. Aku mengalah dan memberimu waktu selama yang kau butuhkan.
Masihkah kamu meragu kalau aku akan bertahan bersamamu seburuk apapun kondisinya? Aku tidak peduli seberat apapun masalahmu. Aku tidak peduli walau mungkin kehidupanku bersamamu tidak secukup kehidupanku saat ini. Aku tidak peduli walau aku harus bekerja, mengorbankan apa yang kusuka demi membantumu membangun keluarga kecil kita. Dan mungkin harus kuingatkan sekali lagi, aku tidak pernah memandangmu dari segi materi. Tidak pernah. Aku tidak mengerti mengapa kamu masih saja menganggap bahagiaku adalah materi. Aku tidak paham. Bukankah sudah ratusan kali kukatakan, aku mencintaimu dan aku percaya bahwa kita bisa bahagia bersama, bagaimana pun keadaannya.
Dan sampai hari ini pun, setelah nyaris seminggu kita hanya diam. Aku masih menunggu. Menunggu sampai kamu akan bercerita apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sebenarnya kau rasakan. Menunggu janjimu saat kau berkata bahwa kita akan membicarakan ini suatu saat nanti. Semoga hal ini, air mata ini, risau ini, tidak berakhir buruk bagi kita Sayang. Semoga segalanya yang terbaik untuk kita, semoga.