Jumat, 23 Agustus 2013

Menulis Meredakan Sakit

Bagiku menulis adalah terapi. Terapi untuk meredakan sakit hati, terapi untuk membuatku merasa lebih baik. Dan karena itu aku membuat blog ini. Kata mereka, menulis merapikan kenangan. Dan karena saat awal membuat blog ini aku merasa kenanganku telah rapi, maka aku merasa tidak perlu menuliskannya. Namun sedihnya, saat ini kenangan itu kembali berantakan. Menyakitkan.Mengapa bisa sebuah kenangan yang rapi kembali berantakan? Hanya karena sebuah novel. Notasi karya Morra Quatro. Awalnya aku tertarik membaca novel itu karena latarnya yang membahas kisah cinta antar dua aktivis kampus saat Mei '98. Saat Indonesia sedang bergolak. Saat aku masih balita. Saat ini, aku adalah aktivis kampus. Dan seperti salah satu tokoh utama di novel itu, Nino, aku adalah mahasiswa teknik. Morra menggambarkan kondisi mahasiswa teknik dengan baik. Jarang mandi, jarang pulang dari kampus, dan kami seringkali menderita dengan harga alat yang tinggi. Ya, beginilah kami. Tapi inilah kebanggaan kami. Mahasiswa teknik yang jarang mandi :)) Ah, pembahasan ini terlalu melebar.
Novel ini menceritakan tentang Nalia, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi yang secara tidak sengaja bertemu dan menjadi dekat dengan Nino, mahasiswa Fakultas Teknik--tepatnya Jurusan Teknik Elektro--yang notabene adalah 'musuh' dari fakultasnya dalam pemilihan Presiden BEM universitas kepengurusan mendatang. Kedekatan mereka tidak berlangsung lama, karena sebagai sesama aktivis kampus mereka terjebak dengan kondisi Indonesia yang bergejolak di bulan Mei '98. Setelah kejadian itu Nino menghilang, ia menjadi salah satu mahasiswa yang terlibat besar dalam aksi-turun-ke-jalan dan cukup dicari oleh aparat. Nino hanya datang kepada Nalia melalui surat-surat kaleng. Setelah sekian lama, Nino akhirnya benar-benar menghilang. Nalia melanjutkan hidupnya kembali dan menata kembali hatinya yang sempat berantakan sejak kehilangan Nino. Dan saat akhirnya mereka bertemu kembali beberapa belas tahun setelah kejadian itu, Nalia telah bersanding bersama Faris, seorang lelaki yang berusia beberapa tahun lebih muda darinya, dan Nino telah bersama Ve, teman seperjuangannya di Fakultas Teknik dulu yang diam-diam menyimpan perasaan terhadap Nino dan sering menguarkan aura permusuhan kepada Nalia saat Nino dan Nalia masih dekat dulu. Kisah di novel ini sebenarnya tidak hanya terfokus pada kisah cinta antara Nino dan Nalia. Ada bumbu-bumbu peristiwa demonstrasi '98 dan kesibukan aktivis kampus pada saat itu. Dan yang awalnya membuatku tertarik membacanya adalah karena aku penasaran dengan temanya yang membahas pergerakan mahasiswa. Tapi semakin jauh aku membaca, aku justru merasa berkali-kali terjebak nostalgia karena kisahku sedikit banyak mirip dengan kisah Nalia - Nino. Walau bedanya kisah itu berlangsung pada tahun 2013, 15 tahun setelah reformasi. Dan bedanya 'Nino-ku' tidak menghilang karena buruan aparat. 'Nino-ku' hanya menghilang kembali kepada 'Ve-nya'. Di akhir novel ini Nalia berkata bahwa cinta selalu pulang. Dan nyatanya Nino pulang kepada Ve, orang yang turut berjuang bersamanya mengurus BEM fakultas mereka, bukan bersama Nalia, orang yang pernah ia bagi kecupan di bibirnya.
Dalam kisahku sendiri, aku merasa aku adalah Nalia. Hanya kami sangat berbeda. Aku adalah mahasiswi teknik, dan dalam beberapa bagian di novel itu aku tidak menyukai Nalia. Ada satu kesamaan antara aku dan 'Nino-ku' dengan Nalia dan Nino. Kami tidak berada di lingkaran yang sama. Kami tidak satu organisasi, kami tidak satu jurusan, kami bahkan tidak satu angkatan. Dan sebuah kebetulan yang ajaib kami bisa berbagi irisan lingkaran yang sama. Seperti Nalia dan Nino yang bisa berbagi irisan lingkaran karena kebetulan. Kami sempat menjadi dekat selama beberapa bulan, berbagi kisah dan kesusahan dalam organisasi kami masing-masing, sebelum ia kembali kepada 'rumah'nya. Kepada 'Ve' versinya. Yang turut bersamanya melangkah sejak awal mereka duduk di bangku kuliah, yang menjadi pendukung utamanya saat 'Nino-ku' memutuskan maju menjadi orang nomor satu di organisasinya.
Membaca kisah Nalia dan Nino kadang membuatku tercekat, karena tanpa kusadari bayangan Nalia dan Nino berubah menjadi bayanganku dan 'Nino-ku'. Dan ini membuatku terpaksa menutup novel ini di pertengahannya karena aku tidak mampu lagi menahan kenangan yang terus berkelebat itu, walau nyatanya aku sangat ingin tau kelanjutan kisahnya. Mungkin nanti, saat aku sudah siap, aku bisa kembali membacanya secara rinci. Bukan hanya membolak-baliknya sekilas seperti saat ini.
Seperti Nino, 'Nino-ku' pergi tanpa pamit. Ia hanya meninggalkan banyak janji kepadaku, yang aku tau takkan pernah ia tepati. Ia pernah kembali satu kali, hanya untuk menguntai kata maaf dan menawarkanku sehembus angin segar, walau posisinya kini lebih memilih 'Ve-nya'. Aku menolak angin segar yang ia tawarkan. Aku tidak ingin sakit hati untuk kedua kalinya. Dan aura tidak suka yang kadang kurasakan dari 'Ve-nya' cukup membuatku tahu diri.
Saat 'Nino-ku' menghilang dan kembali bersama 'Ve-nya', aku marah dan sakit hati. Aku sempat membencinya, bahkan aku juga membenci 'Ve-nya'. Tapi saat kubaca kisah Nalia - Nino - Ve, aku merasa memang Ve yang berhak mendapatkan Nino. Ve telah bersama dengan Nino sebelum Nalia datang kedalam hidupnya. Ve telah berbuat lebih banyak hal kepada Nino daripada Nalia. Dan karena ini, walau awalnya sakit hati dan marah, aku akhirnya bisa mengikhlaskan 'Nino-ku' pulang kepada 'Ve-nya'. Karena 'Ve-nya' lah yang dulu menemani 'Nino-ku' di masa-masa berat dalam angkatannya. 'Ve-nya' lah yang mendukung 'Nino-ku' untuk maju menjadi seorang pemimpin. Sedangkan aku baru datang pada beberapa bulan terakhir masa kepemimpinannya. Saat posisinya sudah di atas. Aku hanya turut andil sedikit menguatkan pundaknya, bukan membantunya menaiki tangga kepemimpinan. Pada akhirnya aku mengerti mengapa 'Nino-ku' tidak memilih aku. Pada akhirnya aku paham, mengapa ia memilih meninggalkanku dan pulang kepada 'Ve-nya'. Dan detik ini aku merasa bisa mengikhlaskan kebahagiaan mereka serta mendoakan kebahagiaan mereka.
Ada satu hal yang berbeda dalam kisah cinta versiku. Aku tidak seperti Nalia yang sudah bersanding bersama Faris, aku tidak memiliki siapa-siapa yang bersanding bersamaku. Mungkin belum saatnya aku bertemu dengan 'Faris-ku'. Tapi aku yakin, suatu hari nanti 'Faris-ku' akan datang di saat yang istimewa bagiku. Bahkan mungkin lebih istimewa dari sebuah kebetulan ajaib yang membuatku dan 'Nino-ku' berbagi irisan lingkaran yang sama. Suatu hari nanti ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar