Jumat, 23 Agustus 2013

Menulis Meredakan Sakit

Bagiku menulis adalah terapi. Terapi untuk meredakan sakit hati, terapi untuk membuatku merasa lebih baik. Dan karena itu aku membuat blog ini. Kata mereka, menulis merapikan kenangan. Dan karena saat awal membuat blog ini aku merasa kenanganku telah rapi, maka aku merasa tidak perlu menuliskannya. Namun sedihnya, saat ini kenangan itu kembali berantakan. Menyakitkan.Mengapa bisa sebuah kenangan yang rapi kembali berantakan? Hanya karena sebuah novel. Notasi karya Morra Quatro. Awalnya aku tertarik membaca novel itu karena latarnya yang membahas kisah cinta antar dua aktivis kampus saat Mei '98. Saat Indonesia sedang bergolak. Saat aku masih balita. Saat ini, aku adalah aktivis kampus. Dan seperti salah satu tokoh utama di novel itu, Nino, aku adalah mahasiswa teknik. Morra menggambarkan kondisi mahasiswa teknik dengan baik. Jarang mandi, jarang pulang dari kampus, dan kami seringkali menderita dengan harga alat yang tinggi. Ya, beginilah kami. Tapi inilah kebanggaan kami. Mahasiswa teknik yang jarang mandi :)) Ah, pembahasan ini terlalu melebar.
Novel ini menceritakan tentang Nalia, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi yang secara tidak sengaja bertemu dan menjadi dekat dengan Nino, mahasiswa Fakultas Teknik--tepatnya Jurusan Teknik Elektro--yang notabene adalah 'musuh' dari fakultasnya dalam pemilihan Presiden BEM universitas kepengurusan mendatang. Kedekatan mereka tidak berlangsung lama, karena sebagai sesama aktivis kampus mereka terjebak dengan kondisi Indonesia yang bergejolak di bulan Mei '98. Setelah kejadian itu Nino menghilang, ia menjadi salah satu mahasiswa yang terlibat besar dalam aksi-turun-ke-jalan dan cukup dicari oleh aparat. Nino hanya datang kepada Nalia melalui surat-surat kaleng. Setelah sekian lama, Nino akhirnya benar-benar menghilang. Nalia melanjutkan hidupnya kembali dan menata kembali hatinya yang sempat berantakan sejak kehilangan Nino. Dan saat akhirnya mereka bertemu kembali beberapa belas tahun setelah kejadian itu, Nalia telah bersanding bersama Faris, seorang lelaki yang berusia beberapa tahun lebih muda darinya, dan Nino telah bersama Ve, teman seperjuangannya di Fakultas Teknik dulu yang diam-diam menyimpan perasaan terhadap Nino dan sering menguarkan aura permusuhan kepada Nalia saat Nino dan Nalia masih dekat dulu. Kisah di novel ini sebenarnya tidak hanya terfokus pada kisah cinta antara Nino dan Nalia. Ada bumbu-bumbu peristiwa demonstrasi '98 dan kesibukan aktivis kampus pada saat itu. Dan yang awalnya membuatku tertarik membacanya adalah karena aku penasaran dengan temanya yang membahas pergerakan mahasiswa. Tapi semakin jauh aku membaca, aku justru merasa berkali-kali terjebak nostalgia karena kisahku sedikit banyak mirip dengan kisah Nalia - Nino. Walau bedanya kisah itu berlangsung pada tahun 2013, 15 tahun setelah reformasi. Dan bedanya 'Nino-ku' tidak menghilang karena buruan aparat. 'Nino-ku' hanya menghilang kembali kepada 'Ve-nya'. Di akhir novel ini Nalia berkata bahwa cinta selalu pulang. Dan nyatanya Nino pulang kepada Ve, orang yang turut berjuang bersamanya mengurus BEM fakultas mereka, bukan bersama Nalia, orang yang pernah ia bagi kecupan di bibirnya.
Dalam kisahku sendiri, aku merasa aku adalah Nalia. Hanya kami sangat berbeda. Aku adalah mahasiswi teknik, dan dalam beberapa bagian di novel itu aku tidak menyukai Nalia. Ada satu kesamaan antara aku dan 'Nino-ku' dengan Nalia dan Nino. Kami tidak berada di lingkaran yang sama. Kami tidak satu organisasi, kami tidak satu jurusan, kami bahkan tidak satu angkatan. Dan sebuah kebetulan yang ajaib kami bisa berbagi irisan lingkaran yang sama. Seperti Nalia dan Nino yang bisa berbagi irisan lingkaran karena kebetulan. Kami sempat menjadi dekat selama beberapa bulan, berbagi kisah dan kesusahan dalam organisasi kami masing-masing, sebelum ia kembali kepada 'rumah'nya. Kepada 'Ve' versinya. Yang turut bersamanya melangkah sejak awal mereka duduk di bangku kuliah, yang menjadi pendukung utamanya saat 'Nino-ku' memutuskan maju menjadi orang nomor satu di organisasinya.
Membaca kisah Nalia dan Nino kadang membuatku tercekat, karena tanpa kusadari bayangan Nalia dan Nino berubah menjadi bayanganku dan 'Nino-ku'. Dan ini membuatku terpaksa menutup novel ini di pertengahannya karena aku tidak mampu lagi menahan kenangan yang terus berkelebat itu, walau nyatanya aku sangat ingin tau kelanjutan kisahnya. Mungkin nanti, saat aku sudah siap, aku bisa kembali membacanya secara rinci. Bukan hanya membolak-baliknya sekilas seperti saat ini.
Seperti Nino, 'Nino-ku' pergi tanpa pamit. Ia hanya meninggalkan banyak janji kepadaku, yang aku tau takkan pernah ia tepati. Ia pernah kembali satu kali, hanya untuk menguntai kata maaf dan menawarkanku sehembus angin segar, walau posisinya kini lebih memilih 'Ve-nya'. Aku menolak angin segar yang ia tawarkan. Aku tidak ingin sakit hati untuk kedua kalinya. Dan aura tidak suka yang kadang kurasakan dari 'Ve-nya' cukup membuatku tahu diri.
Saat 'Nino-ku' menghilang dan kembali bersama 'Ve-nya', aku marah dan sakit hati. Aku sempat membencinya, bahkan aku juga membenci 'Ve-nya'. Tapi saat kubaca kisah Nalia - Nino - Ve, aku merasa memang Ve yang berhak mendapatkan Nino. Ve telah bersama dengan Nino sebelum Nalia datang kedalam hidupnya. Ve telah berbuat lebih banyak hal kepada Nino daripada Nalia. Dan karena ini, walau awalnya sakit hati dan marah, aku akhirnya bisa mengikhlaskan 'Nino-ku' pulang kepada 'Ve-nya'. Karena 'Ve-nya' lah yang dulu menemani 'Nino-ku' di masa-masa berat dalam angkatannya. 'Ve-nya' lah yang mendukung 'Nino-ku' untuk maju menjadi seorang pemimpin. Sedangkan aku baru datang pada beberapa bulan terakhir masa kepemimpinannya. Saat posisinya sudah di atas. Aku hanya turut andil sedikit menguatkan pundaknya, bukan membantunya menaiki tangga kepemimpinan. Pada akhirnya aku mengerti mengapa 'Nino-ku' tidak memilih aku. Pada akhirnya aku paham, mengapa ia memilih meninggalkanku dan pulang kepada 'Ve-nya'. Dan detik ini aku merasa bisa mengikhlaskan kebahagiaan mereka serta mendoakan kebahagiaan mereka.
Ada satu hal yang berbeda dalam kisah cinta versiku. Aku tidak seperti Nalia yang sudah bersanding bersama Faris, aku tidak memiliki siapa-siapa yang bersanding bersamaku. Mungkin belum saatnya aku bertemu dengan 'Faris-ku'. Tapi aku yakin, suatu hari nanti 'Faris-ku' akan datang di saat yang istimewa bagiku. Bahkan mungkin lebih istimewa dari sebuah kebetulan ajaib yang membuatku dan 'Nino-ku' berbagi irisan lingkaran yang sama. Suatu hari nanti ...

Senin, 19 Agustus 2013

All of A Sudden, He Came and ...

Sejak awal aku akan memberitahu kalian, kisah ini tidak berakhir manis. Jadi jangan berharap akhir yang bahagia untukku dan dia. Karena nampaknya kisah kami telah berakhir dengan tidak membahagiakan untukku. Kita sebut saja dia Nino. Mengapa Nino? Aku sudah menerangkannya di post lamaku kan?
Dulu aku pernah berkata kepada seorang kakak bahwa dia datang di saat tepat, lalu meninggalkanku di saat yang tidak tepat. Lalu kakakku menegurku, berkata bahwa yang tepat untukku belum tentu tepat bagi Sang Pemilik Waktu. Begitupun yang bagiku tidak tepat, bisa jadi justru sebaliknya bagi-Nya. Dan sekarang aku tersadar, kalau saat itu Nino tidak meninggalkanku, belum tentu aku menjadi aku yang sama dengan aku yang sekarang. Pernah juga aku berpikir seandainya sejak awal aku dan Nino tidak pernah bertemu, tentu ceritanya tidak akan menyedihkan seperti ini. Tentu aku tidak perlu terlanjur nyaman padanya dan sakit hati sekarang. Tapi sekali lagi aku tersadar, Tuhan sudah mengatur semuanya dengan indah. Tuhan selalu memiliki rencana.
Aku tidak akan menceritakan secara rinci bagaimana hubunganku dan Nino. Kami berkenalan beberapa bulan yang lalu karena menjadi panitia di kegiatan yang sama. Aku lupa tepatnya kami berkenalan di bulan apa. Pertemuan pertamaku dengannya tidak terlalu berkesan. Nino berusia setahun lebih tua dariku. Ia pendiam dengan pembawaan yang tenang dan wajah yang sangat serius seakan ia selalu sedang berpikir. Ia adalah ketua organisasinya namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah melihat wajahnya atau mendengar namanya sekalipun organisasiku dan organisasinya kadang bekerjasama. Pembawaan Nino yang serius membuatku jarang berbicara dengannya. Karena aku sangat suka bercanda, aku takut candaan dan keributanku akan mengganggu orang seserius Nino.
Mengapa aku bilang kalau Nino datang di saat yang tepat? Karena saat itu aku masih dalam masa pemulihan setelah putus dari mantan pacarku yang terakhir. Kami putus dengan tidak terlalu baik. Setelah putus hubungan kami kaku, aneh. Kami tidak pernah lagi bertegur sapa. Kami tidak lagi merasa nyaman bila berada di satu kegiatan yang sama. Intinya, kami menghindar satu sama lain. Dan beberapa minggu sebelum aku mengenal Nino aku mengetahui bahwa mantan pacarku sedang dekat dengan salah satu juniorku. Menyakitkan rasanya saat mengetahui ia sudah berpaling di saat aku masih diam di tempat. Bahkan melihat junior yang didekati mantan pacarku pun aku rasanya emosi dan ingin menangis. Tapi aku sadar, kami sudah tidak ada hubungan.
Tapi jangan lantas kalian menyimpulkan kalau Nino adalah pelarian bagiku. Aku ingat sekali satu hari sebelum eventku berlangsung, aku bertemu dengan juniorku. Ia anak yang aktif di angkatannya. Ia sebenarnya menyenangkan. Namun saat melihatnya aku terbakar rasa marah. Hal itu berlangsung selama beberapa hari. Setiap melihatnya aku selalu merasa kesal. Sampai di hari terakhir eventku, aku bertemu lagi dengannya. Tapi anehnya sama sekali tidak ada perasaan marah yang terlintas di benakku. Aku melihatnya sambil tersenyum lalu menyapanya serta bercanda. Aneh rasanya mengingat aku masih menyimpan kesal malam sebelumnya. Dan saat bisa tertawa bersamanya, saat itulah aku tau, aku sudah move on dan melupakan mantan pacarku.
Malam hari setelah eventku berakhir, Nino mengirim SMS. Tidak hanya ke aku, tapi juga ke teman-teman lain yang menjadi panitia inti event tersebut. Saat menerima SMS Nino, aku tertawa dan menunjukkan ke teman dekatku dengan candaan. Tapi sungguh, sebenarnya saat itu aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Keesokan harinya Nino membuat tweet yang isinya sangat sesuai dengan kondisiku saat itu. Seakan tweet itu untukku. Tapi lagi-lagi kali itu aku hanya menanggapinya sebagai bahan candaan. Toh bisa jadi tweet no mention itu untuk orang lain kan? Keesokan harinya, dua hari setelah pertemuan terakhir kami, Nino mengirimkan chat FB. Awalnya hanya basa-basi. Sejujurnya saat itu aku kaget. Nino yang biasanya tanpa basa-basi, kali ini berbasa-basi? Tapi pada dasarnya aku adalah orang yang sangat easy going sehingga aku tetap menanggapi chat Nino dengan baik. Aku masih ingat, Nino mengakhiri chat pertama kami dengan doa tulus. Doa untuk kesehatan dan kemudahanku. Seakan ia tau kalau saat itu aku memang sedang sakit. Dan sejak hari itu, ia rutin menghubungiku via chat FB setiap dua hari sekali. Ia juga sering membuat tweet yang isinya seakan untukku. Hal itu memicuku untuk membuat tweet yang memang kutujukan untuknya. Tapi belakangan ini aku sadar, siapa tau sejak awal hanya aku yang terlalu berharap. Siapa tau tweet itu tidak pernah untukku? Setelah beberapa hari rajin mengirimkan chat FB, ia mulai sering meretweet tweetku. Nyaris setiap hari bahkan. Hal itu membuatku teringat lagu Coboy Junior, "kutunggu retweetmu, agar aku tau sukakah kamu kepadaku," Dalam beberapa minggu itu aku bertemu dengannya beberapa kali. Tapi kami seringnya hanya saling tatap sebentar, lalu mengalihkan pandangan. Terlalu canggung untuk berbicara. Setelah tiga minggu rajin mengirim chat FB, Nino mulai mengirim SMS untukku walau hanya kadang-kadang. Isi SMSnya pun terkadang aneh, seakan terlalu dipaksakan. Dari situlah aku mulai terbiasa dengan kehadiran Nino. Setelah tepat sebulan kami rajin berkomunikasi, Nino menghilang selama tiga hari. Aku mulai pesimis dan siap dengan kemungkinan terburuk, kemungkinan kehilangan Nino. Tapi ia lalu datang kembali. Ia selalu mengirim SMS setiap hari untukku, tidak lagi dua hari sekali. Bila aku tidak membalas SMSnya, ia akan mengirim pesan melalu media lain. Mulai dari messenger A sampe messenger C. Bagaimana bisa aku tidak berharap padanya? Nino juga mulai sering mengingatkanku makan, sholat, istirahat. Menanyakan kabar tugasku. Mengingatkanku untuk menjaga kesehatan, dan bertanya kesibukanku setiap harinya. Aku mulai terbiasa dengan kehadiran Nino. Nino adalah orang pertama yang kukabari saat aku terjaga, dan orang terakhir yang tau kegiatanku sebelum terlelap. Aku juga selalu menceritakan masalahku kepadanya, khususnya masalah organisasi. Nino pun kadang menceritakan masalah organisasinya kepadaku. Aku senang, orang sependiam Nino mau mempercayai orang yang baru dikenalnya seperti aku. Pada masa tiga bulan kedekatan kami itu, hanya satu kali kami pernah mengobrol berdua sekalipun Nino seringkali berjanji untuk bercerita banyak hal kepadaku. Dan ia hanya mau menceritakan secara langsung, bukan via messenger. Tiga bulan bersama Nino membuatku terlalu terbiasa dengan hadirnya. Bagaimana tidak, ia selalu ada di setiap pagiku. Dan ia selalu menemaniku sampai kuterlelap. Tapi anehnya, setelah tiga bulan itu Nino menghilang. Aku bagai tidak memiliki pegangan saat itu. Karena aku terbiasa membagi masalahku dengannya. Dan ia pergi di saat yang tidak tepat, di saat masalah bertubi menimpaku dan aku sangat membutuhkannya untuk mendengar kisahku dan memberi masukan serta menenangkanku, seperti biasanya. Saat Nino menghilang, aku tidak berusaha mencarinya karena feelingku berkata aku tidak boleh mencari Nino. Sejak ia tak pernah menghubungiku lagi, aku tau Nino tidak akan pernah kembali.
Beberapa hari setelah ia menghilang, aku mendapat kabar dari seorang kakak kalau Nino kembali ke pacarnya. Kita sebut saja dia Ve. Sejujurnya aku bingung menyebut Ve itu apa, karena ia dan Nino tidak pernah memiliki hubungan yang resmi. Yang aku tau, mereka sudah dekat selama tiga tahun. Bukan waktu yang sedikit memang, sehingga wajar bila akhirnya Nino meninggalkanku dan kembali kepada Ve. Saat pertama mendengar kabar Nino kembali kepada Ve, aku sama sekali tidak kaget. Karena ntah bagaimana feelingku memang berkata demikian. Saat itu, bahkan sampai saat ini pun, aku tidak menangis, walau hatiku rasanya remuk, walau aku merasa sangat kecewa, walau aku merasa sangat marah dan membenci Nino. Tidak setetes pun air mata jatuh. Aku pun tidak mengerti, bagaimana bisa aku tidak menangisi sakit hati ini.
Sejujurnya aku sudah cukup lama mengetahui siapa itu Ve dari kakak yang sama dengan yang memberitahuku saat Nino kembali kepada Ve. Saat minggu-minggu awal aku dekat dengan Nino, aku bertanya kepada kakak itu orang seperti apa Nino. Ia berkata Nino adalah orang yang baik lalu melanjutkan dengan kata-kata yang membuatku shock, "Nino sudah ada yang ngejagain di jurusan tapi," Saat aku bertanya definisi 'menjaga' yang bagaimana, kakakku berkata kalau mereka sudah tiga tahun dekat, digosipkan pacaran, tapi selalu mengelak. Aku mencari pembenaran saat itu, toh mereka tidak berpacaran. Tapi walaupun sudah lama tau mengenai Ve, tetap saja awalnya aku marah dan kecewa saat Nino menghilang. Tapi seiring berjalannya waktu, aku kini ikhlas dan merelakan Nino kembali kepada Ve. Memang benar, 'Cinta selalu pulang'. Dan Nino pulang kepada Ve, layaknya hakikatnya cinta. Ve sudah menemani Nino selama tiga tahun. Ia tahu sepak terjang Nino selama ini. Jadi wajar bila Nino meninggalkanku yang baru bersamanya tiga bulan. Aku hanya mengetahui sedikit keluh kesahnya, dan aku tidak bisa banyak membantu layaknya Ve.
Ve pernah menemuiku, tepatnya memaksa menemuiku walau aku sudah mengelak dengan beragam alasan. Tapi akhirnya aku mengalah juga karena aku merasa seperti dikejar-kejar. Bagaimana tidak, ia bahkan sampai datang ke jurusanku. Dari pertemuan dengan Ve itu aku mendapat gambaran jelas hubungannya dengan Nino. Rupanya mereka sudah dekat sejak sama-sama berstatus mahasiswa baru. Aku tidak akan menerangkan secara rinci, intinya mereka memiliki satu komitmen. Dan beberapa bulan lalu, tepatnya saat Nino sempat menghilang beberapa hari, mereka bertengkar sampai tercetus kata-kata untuk melupakan komitmen. Di saat mereka telah 'melupakan' komitmen itu, Nino semakin dekat denganku. Dan beberapa hari sebelum Nino pergi dari hidupku, mereka berbaikan. Ve sempat membaca semua SMS dan lainnya antara aku dan Nino di HP Nino. Ia marah besar dan itulah akhir hubunganku dan Nino.
Saat mendengar cerita Ve aku tidak marah kepadanya, aku malah merasa bersalah. Aku kecewa kepada Nino, dan diriku sendiri karena menanggapi semua kebaikan Nino. Bahkan sampai saat Nino pergi dan kembali kepada Ve, masih ada beberapa saat di mana rasanya ia masih mengingatku. Kadang ia masih membuat tweet yang isinya ditujukan untuknya. Dan untuk tweet itu aku yakin memang untukku, karena makna tersirat di dalamnya memang hanya ia dan aku yang tau. Tapi aku sudah tidak pernah menanggapinya, bagiku Nino hanya cerita lama. Aku telah mengikhlaskan ceritaku dengannya.
Lalu, perubahan apa yang Nino bawa ke hidupku? Di antara beberapa orang yang pernah mampir di hidupku, Nino mungkin yang paling sebentar, tapi ia yang membawa paling banyak perubahan. Perubahan pertama adalah dari segi penampilan. Nino adalah pribadi yang pendiam, hal itu membuatku merasa harus merubah diriku menjadi lebih kalem untuk menyamakan dengannya. Aku merubah penampilanku menjadi lebih 'wanita'. Aku jadi rajin mengenakan rok dan berpenampilan lebih feminin. Dan ternyata sampai saat ini aku lebih nyaman dengan penampilan itu walau aku tidak benar-benar meninggalkan gaya berpakaian lamaku. Nino adalah ketua organisasinya, dan hal itu memotivasiku untuk meraih prestasi yang baik pula di organisasiku. Ia sangat banyak membantuku di saat aku kebingungan masalah organisasi dan membantuku mendapat solusi dari masalah organisasi tersebut. Dan saat ia pergi, aku telah menjadi pribadi yang berbeda di organisasiku. Aku menjadi lebih aktif dan lebih berani mengambil keputusan. Saat ini aku bahkan dipercaya menempati suatu posisi yang cukup baik di organisasiku. Perubahan terakhir adalah dalam masalah kesehatan. Aku pernah mengalami masalah kesehatan yang cukup serius beberapa tahun lalu, tapi walau begitu aku masih saja bandel dan malas menjaga kesehatan. Nino ternyata tidak lebih sehat dariku. Ia juga memiliki masalah kesehatan yang sering membuatku khawatir karena ia sering tidak menjaga kesehatan dirinya. Aku pun secara tak sadar menjadi lebih menjaga kesehatanku dengan menghindari beragam makanan dan minuman yang tidak baik untuk kesehatan. Bahkan aku juga jadi lebih peduli dengan kesehatan orang-orang di sekitarnya, layaknya aku peduli dengan kesehatan Nino dulu.
Nino memang bukan untukku. Ia memang telah 'pulang' ke cintanya. Tapi beragam kebaikan yang pernah ia berikan tidak akan pernah hilang. Aku yakin, suatu hari nanti akan ada laki-laki lain untukku, dengan pertemuan dan cerita yang lebih indah dari kisahku dan Nino.
"Segala kebaikan takkan terhapus oleh kepahitan. Ku lapangkan resah jiwa karena ku percaya kan berujung indah." - Padi, Harmony
Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway 4th Anniversary Emotional Flutter

Kamis, 15 Agustus 2013

Beautiful Creature

Aku jatuh cinta. Bukan cinta pada pandangan pertama melainkan cinta yang muncul di hati saat aku mulai mengenalnya, sedikit demi sedikit. Apalagi saat aku mengetahui betapa beratnya hidup yang ia jalani. Hatiku bagai tertusuk dan dipenuhi oleh rasa sakit. Cukup sekian bualan tentang cinta. Jadi sebenarnya, siapa kah ia yang kucinta? Harimau Sumatera. Hahaha. Aku serius, aku jatuh cinta pada binatang yang sudah kuketahui keberadaannya sedari dulu tapi tidak pernah kuperhatikan dengan seksama.


Harimau Sumatera,yang memiliki nama latin Panthera Tigris Sumatrae, adalah salah satu dari tiga harimau kebanggaan Indonesia. Namun sedihnya, Harimau Sumatera adalah jenis harimau Indonesia terakhir yang bertahan hidup sejak saudara-saudaranya, Harimau Bali dan Harimau Jawa, punah dan hilang jejaknya dari muka bumi ini.
Menurut WWF, populasi Harimau Sumatera saat ini terancam oleh beberapa jenis tekanan seperti konflik dengan manusia, perburuan dan perdagangan ilegal, serta kehilangan dan fragmentasi habitat. Laju kehilangan habitat mencapai 5.9% per tahun, termasuk yang terparah dibandingkan dengan yang dialami anak jenis harimau yang hidup di negara lain. Setiap tahunnya Pulau Sumatera kehilangan lebih dari 500 ribu ha hutan dan berganti menjadi area budidaya. Sementara itu, menurut Daftar Merah IUCN tahun 2008, sebanyak 51 ekor harimau sumatera terbunuh setiap tahunnya yang mana 76% merupakan akibat perdagangan gelap. Kondisi ini diperparah dengan kebakaran hutan pada bulan Juni lalu, dimana sebaran 42% hotspot di Riau berada di hutan alam habitat harimau. Saat membaca informasi itu, hatiku terasa miris. Lagi-lagi satu jenis satwa terancam keberadaannya di muka bumi ini karena ulah manusia. Perburuan dan perdagangan ilegal satwa langka semakin lama semakin menjadi-jadi namun belum juga ada tindakan tegas untuk menghentikannya. Tidakkah manusia merasa kehilangan saat Harimau Bali dan Harimau Jawa dinyatakan sebagai satwa yang telah punah?


Perburan terhadap harimau sudah marak dilakukan sejak dahulu. Foto di atas ini diambil antara tahun 1890-1900. Menyedihkan saat mengetahui hewan-hewan ini telah diburu bahkan sebelum Indonesia merasakan kemerdekaan. Harimau Jawa telah punah sejak tahun 1980-an dan Harimau Bali telah punah sebelumnya, pada tahun 1937. Padahal seandainya kedua satwa itu masih ada, tidak kah menjadi kebanggaan Indonesia memiliki tiga jenis harimau?

Rabu, 14 Agustus 2013

The Trick Is To ENJOY LIFE

Bagaimana bisa aku menikmati hidupku apabila aku bahkan tidak bahagia menjalaninya? Pertanyaan itu pernah berkelebat di benakku. Cukup sering malah. Dan rasanya tidak hanya di benakku, namun juga di benak beberapa orang lainnya. Aku pernah merasa tidak bahagia dengan hidup yang kujalani. Padahal aku memiliki kehidupan yang nyaris sempurna. Keluargaku memang tidak kaya raya, tapi apa pun yang kuminta hampir selalu dikabulkan oleh kedua orang tuaku, walau terkadang aku harus menunggu. Terlepas dari harta, keluargaku nyaris sempurna. Tidak hanya keluarga kecil yang hangat, aku juga memiliki keluarga besar yang sangat dekat, layaknya keluarga kecil yang bertemu setiap hari walau kami hanya dapat berkumpul lengkap satu tahun sekali. Tidak banyak teman yang kukenal yang memiliki kedekatan layaknya aku dan keluarga besarku, karenanya aku sangat membanggakan hal itu. Aku juga tidak kekurangan teman, aku memiliki beberapa teman dekat yang hampir selalu menemaniku setiap hari di sekolah.
Lalu bagaimana bisa dengan kehidupan sesempurna itu aku menjadi tidak bahagia? Itu semua bermula dari passion. Sampai nyaris di penghujung tahun ketiga SMAku aku tidak juga tau akan ke mana aku kelak. Mau menjadi apa aku di kemudian hari? Saat teman-temanku sudah tau akan ke mana ia berkuliah, aku masih tidak memiliki tujuan. Bahkan di saat itu beberapa temanku sudah terdaftar di beberapa sekolah tinggi di kotaku. Aku yang walaupun sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah tinggi sedikit banyak mulai merasa panik karena merasa tidak memiliki tujuan melangkah. Kedua orang tuaku pun mulai sering bertanya di mana aku akan melanjutkan pendidikanku. Sejujurnya saat itu aku sama sekali tak tahu ke mana aku akan melanjutkan pendidikanku. Aku tidak memiliki cita-cita. Yang aku tau, aku hanya ingin kuliah S-1, bekerja, menikah, lalu melanjutkan pendidikan S-2 ke luar negeri. Tapi kuliah S-1 di mana? Pertanyaan itu yang tidak kunjung dapat kutemukan jawabannya. Aku tidak ingin menjadi dokter atau bekerja di bidang kesehatan seperti beberapa orang anggota keluargaku. Aku juga tidak ingin menjadi guru atau berkutat di bidang pendidikan seperti harapan beberapa temanku. Menjadi seorang akuntan atau bekerja di belakang meja pun tidak pernah menjadi mimpiku.
Dulu, saat aku masih duduk di tahun pertamaku SMA, aku sering bercanda dan bercerita kepada ibuku kalau aku ingin menjadi seorang duta besar lalu bekerja di berbagai negara di luar negeri. Tentu aku akan mengajak kedua orang tuaku turut serta lalu kami bisa berjalan-jalan bersama. Saat ibuku bertanya bagaimana bila cita cita itu tak dapat kuraih, aku menjawabnya dengan canda. "Kalau begitu aku akan menikah dengan duta besar, lalu tinggal di luar negeri bersamanya." Tapi beberapa tahun setelahnya, saat aku harus menentukan pilihan ke mana aku akan melanjutkan pendidikan, menjadi duta besar tidak terlihat menyenangkan. Baru kusadari, aku tidak benar-benar ingin menjadi duta besar yang harus bekerja di luar negeri. Aku terlalu takut membayangkan menjadi orang yang memegang peran penting dalam menjaga citra negara di mata dunia. Aku lebih ingin melanjutkan pendidikan di jurusan komunikasi. Mengapa? Entahlah, aku hanya ingin. Namun saat aku mengutarakan keinginanku, seorang pamanku menertawakanku dan bertanya untuk apa aku ingin kuliah komunikasi. Sudah ada satu orang di keluargaku yang kuliah komunikasi dan lalu berakhir di dapur, menjadi seorang ibu rumah tangga. Aku terpaksa mengubur harapan itu.
Aku juga pernah berkata kepada ibuku aku ingin menjadi psikiater. Tapi keinginan ini ditolak mentah-mentah oleh beliau. Bagi ibuku, psikiater adalah dokter bagi orang yang mengalami gangguan jiwa. Lagi-lagi aku mengubur harapanku.
Terakhir, aku berkata ingin menjadi ahli gizi. Kedua orangtuaku tidak terlalu menyetujui harapanku ini, ntah karena apa. Tapi untuk harapan yang satu ini, aku bersikeras. Paling tidak harus ada satu mimpiku yang kupilih menjadi satu pilihan di ujian SNMPTN. Akhirnya orang tuaku setuju aku mengambil pilihan gizi di pilihan ketiga formulir SNMPTN.
Lalu apa pilihan pertama dan keduanya?
Walau aku sudah tidak ingin menjadi duta besar, rupanya kedua orangtuaku masih menganggap duta besar adalah mimpiku. Mereka menyarankan aku memilih hubungan internasional di salah satu pilihan kuliahku. Dengan gamang aku menyanggupi. Memasukkan hubungan internasional di pilihan kedua SNMPTN.
Lalu apa pilihan pertamanya?
Ini cukup menggelikan. Ntah bagaimana, ibuku menyarankan aku memilih arsitektur menjadi pilihan pertamaku. Aku tidak terlalu yakin dengan pilihan itu, karena sepertinya arsitek tidak pernah menjadi impianku. Namun ibuku bercerita, saat aku kecil aku kerap kali bercerita ingin memperbaiki rumah nenek yang sudah tua termakan waktu. Waktu kecil dulu, aku ingin menjadi arsitek. Dan cita-cita masa kecil itu yang ibuku pegang hingga detik ini. Demi membahagiakan kedua orang tuaku, aku setuju memilih arsitektur sebagai pilihan pertama.
Saat pengumuman SNMPTN keluar, aku lolos di pilihan pertama. Arsitektur di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Alangkah bangganya aku. Mulai detik itu tidak hanya kakakku yang calon dokter yang dibanggakan kedua orangtuaku, tapi aku juga menjadi anak kebanggaan mereka. Saat mendengar kedua orang tuaku bercerita kepada saudara dan teman-temannya kalau aku lolos SNMPTN di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini, hatiku rasanya akan meledak oleh rasa bangga. Lalu, dengan semua kebanggaan itu tidak mungkin rasanya aku tidak bahagia.
Awal kuliah terasa menyenangkan. Namun beberapa bulan kemudian mulai terasa berat. Tinggal sendiri jauh dari orang tua memaksaku menjadi anak yang lebih mandiri. Mengurus hal-hal sendiri mulai dari menyiapkan keperluan kuliah di pagi hari, mencari pengisi perut tiga kali sehari, sampai mengurus cucian kotor. Berat? Tentu saja. Tapi bukan itu bagian terberatnya. Menjadi mahasiswa arsitektur tanpa cita-cita menjadi seorang arsitek jauh lebih berat dari semua pekerjaan rumah tangga yang harus kuurus sendiri. Seringkali aku merasa lebih suka membereskan kamar kostku yang seringkali porak-poranda dibanding mendengarkan dosen menerangkan mata kuliah yang kadang tidak mampu diserap otakku. Sering juga aku merasa lebih mampu berjalan keliling kampus untuk mencari warung yang buka dibanding harus melihat karya desain teman seangkatanku yang sangat jauh lebih baik dibanding desainku yang hampir selalu dikritik habis oleh dosen pembimbing. Belum lagi rasa iri yang diam-diam menjalar di hati bila mendengar temanku bercerita kalau ia sudah dipercaya memegang suatu proyek sederhana. Bagaimana bisa aku bahagia dengan kondisi menyesakkan seperti itu? Saat itu aku merasa tak lagi punya masa depan. Aku pesimis, bahkan rasanya akan menyerah, aku tidak ingin menjadi arsitek. Aku merasa tak mampu untuk terus melanjutkan studi. Aku tak yakin akan sanggup menyelesaikan TA seindah senior-seniorku yang sudah duduk di tahun akhirnya.
Selama satu tahun lebih aku merasa seperti itu. Yang menguatkanku adalah kesadaranku bahwa sudah terlalu terlambat untuk mundur. Aku tidak pernah bercerita beratnya kuliah arsitektur kepada mereka. Aku tidak ingin mereka kecewa. Karena itu aku terus memaksa diriku untuk menjalani hari-hari yang berat ini dan mulai mencintai arsitektur secara pelan-pelan. Aku mulai belajar mencintai bangunan-bangunan yang indah. Aku mulai belajar mengenal arsitek-arsitek terkenal dunia.
Di tengah usahaku belajar mencintai arsitektur tersebut, aku terjun ke dunia organisasi sebagai pelarian dari rasa jenuh kuliah. Dan nyatanya, aku jatuh cinta dengan organisasi. Aku menemukan keluarga baru, kesibukan baru, dan yang terpenting aku menemukan passionku. Aku begitu bahagia saat mengatur sebuah kegiatan. Dari situlah aku tau, passionku menjadi seorang event organizer. Passionku memang tidak berhubungan dengan arsitektur, tapi kalau bukan karena kuliah arsitektur di perguruan tinggi ini, mungkin aku tidak akan 'melarikan diri' dengan terjun di organisasi lalu menemukan passionku. Apalagi, dengan bangganya aku berkata kalau kampusku memiliki organisasi yang cukup kuat bila disandingkan dengan kampus-kampus lain di Indonesia. Aku tidak akan malu menyandingkan kampusku dengan kampus hebat ber-almamater kuning atau warna lainnya. Kuliah di perguruan tinggi ini, walau awalnya menyiksaku, tapi membuatku sangat bangga. Prestasiku di organisasi juga cukup baik. Hal itulah yang semakin mendorongku memperbaiki prestasi akademisku.
Walau awalnya berat, walau penuh air mata, walau pernah terpikir menyerah, tapi aku bersyukur Allah memilihkan perguruan tinggi ini untukku. Karena di sini aku banyak mendapat pelajaran hidup. Aku bisa mengenal banyak orang baru yang memotivasiku, aku mendapat pengalaman baru yang penting untuk bekalku di kemudian hari. Dan sekarang, masih di tengah usaha untuk mencintai arsitektur, aku sedang mengerjakan proyek sederhana pertamaku. Doakan saja proyek kecil ini bisa membuatku lebih mencintai arsitektur :)
Tulisan ini diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway “Blessing in Disguise