Senin, 19 Agustus 2013

All of A Sudden, He Came and ...

Sejak awal aku akan memberitahu kalian, kisah ini tidak berakhir manis. Jadi jangan berharap akhir yang bahagia untukku dan dia. Karena nampaknya kisah kami telah berakhir dengan tidak membahagiakan untukku. Kita sebut saja dia Nino. Mengapa Nino? Aku sudah menerangkannya di post lamaku kan?
Dulu aku pernah berkata kepada seorang kakak bahwa dia datang di saat tepat, lalu meninggalkanku di saat yang tidak tepat. Lalu kakakku menegurku, berkata bahwa yang tepat untukku belum tentu tepat bagi Sang Pemilik Waktu. Begitupun yang bagiku tidak tepat, bisa jadi justru sebaliknya bagi-Nya. Dan sekarang aku tersadar, kalau saat itu Nino tidak meninggalkanku, belum tentu aku menjadi aku yang sama dengan aku yang sekarang. Pernah juga aku berpikir seandainya sejak awal aku dan Nino tidak pernah bertemu, tentu ceritanya tidak akan menyedihkan seperti ini. Tentu aku tidak perlu terlanjur nyaman padanya dan sakit hati sekarang. Tapi sekali lagi aku tersadar, Tuhan sudah mengatur semuanya dengan indah. Tuhan selalu memiliki rencana.
Aku tidak akan menceritakan secara rinci bagaimana hubunganku dan Nino. Kami berkenalan beberapa bulan yang lalu karena menjadi panitia di kegiatan yang sama. Aku lupa tepatnya kami berkenalan di bulan apa. Pertemuan pertamaku dengannya tidak terlalu berkesan. Nino berusia setahun lebih tua dariku. Ia pendiam dengan pembawaan yang tenang dan wajah yang sangat serius seakan ia selalu sedang berpikir. Ia adalah ketua organisasinya namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah melihat wajahnya atau mendengar namanya sekalipun organisasiku dan organisasinya kadang bekerjasama. Pembawaan Nino yang serius membuatku jarang berbicara dengannya. Karena aku sangat suka bercanda, aku takut candaan dan keributanku akan mengganggu orang seserius Nino.
Mengapa aku bilang kalau Nino datang di saat yang tepat? Karena saat itu aku masih dalam masa pemulihan setelah putus dari mantan pacarku yang terakhir. Kami putus dengan tidak terlalu baik. Setelah putus hubungan kami kaku, aneh. Kami tidak pernah lagi bertegur sapa. Kami tidak lagi merasa nyaman bila berada di satu kegiatan yang sama. Intinya, kami menghindar satu sama lain. Dan beberapa minggu sebelum aku mengenal Nino aku mengetahui bahwa mantan pacarku sedang dekat dengan salah satu juniorku. Menyakitkan rasanya saat mengetahui ia sudah berpaling di saat aku masih diam di tempat. Bahkan melihat junior yang didekati mantan pacarku pun aku rasanya emosi dan ingin menangis. Tapi aku sadar, kami sudah tidak ada hubungan.
Tapi jangan lantas kalian menyimpulkan kalau Nino adalah pelarian bagiku. Aku ingat sekali satu hari sebelum eventku berlangsung, aku bertemu dengan juniorku. Ia anak yang aktif di angkatannya. Ia sebenarnya menyenangkan. Namun saat melihatnya aku terbakar rasa marah. Hal itu berlangsung selama beberapa hari. Setiap melihatnya aku selalu merasa kesal. Sampai di hari terakhir eventku, aku bertemu lagi dengannya. Tapi anehnya sama sekali tidak ada perasaan marah yang terlintas di benakku. Aku melihatnya sambil tersenyum lalu menyapanya serta bercanda. Aneh rasanya mengingat aku masih menyimpan kesal malam sebelumnya. Dan saat bisa tertawa bersamanya, saat itulah aku tau, aku sudah move on dan melupakan mantan pacarku.
Malam hari setelah eventku berakhir, Nino mengirim SMS. Tidak hanya ke aku, tapi juga ke teman-teman lain yang menjadi panitia inti event tersebut. Saat menerima SMS Nino, aku tertawa dan menunjukkan ke teman dekatku dengan candaan. Tapi sungguh, sebenarnya saat itu aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Keesokan harinya Nino membuat tweet yang isinya sangat sesuai dengan kondisiku saat itu. Seakan tweet itu untukku. Tapi lagi-lagi kali itu aku hanya menanggapinya sebagai bahan candaan. Toh bisa jadi tweet no mention itu untuk orang lain kan? Keesokan harinya, dua hari setelah pertemuan terakhir kami, Nino mengirimkan chat FB. Awalnya hanya basa-basi. Sejujurnya saat itu aku kaget. Nino yang biasanya tanpa basa-basi, kali ini berbasa-basi? Tapi pada dasarnya aku adalah orang yang sangat easy going sehingga aku tetap menanggapi chat Nino dengan baik. Aku masih ingat, Nino mengakhiri chat pertama kami dengan doa tulus. Doa untuk kesehatan dan kemudahanku. Seakan ia tau kalau saat itu aku memang sedang sakit. Dan sejak hari itu, ia rutin menghubungiku via chat FB setiap dua hari sekali. Ia juga sering membuat tweet yang isinya seakan untukku. Hal itu memicuku untuk membuat tweet yang memang kutujukan untuknya. Tapi belakangan ini aku sadar, siapa tau sejak awal hanya aku yang terlalu berharap. Siapa tau tweet itu tidak pernah untukku? Setelah beberapa hari rajin mengirimkan chat FB, ia mulai sering meretweet tweetku. Nyaris setiap hari bahkan. Hal itu membuatku teringat lagu Coboy Junior, "kutunggu retweetmu, agar aku tau sukakah kamu kepadaku," Dalam beberapa minggu itu aku bertemu dengannya beberapa kali. Tapi kami seringnya hanya saling tatap sebentar, lalu mengalihkan pandangan. Terlalu canggung untuk berbicara. Setelah tiga minggu rajin mengirim chat FB, Nino mulai mengirim SMS untukku walau hanya kadang-kadang. Isi SMSnya pun terkadang aneh, seakan terlalu dipaksakan. Dari situlah aku mulai terbiasa dengan kehadiran Nino. Setelah tepat sebulan kami rajin berkomunikasi, Nino menghilang selama tiga hari. Aku mulai pesimis dan siap dengan kemungkinan terburuk, kemungkinan kehilangan Nino. Tapi ia lalu datang kembali. Ia selalu mengirim SMS setiap hari untukku, tidak lagi dua hari sekali. Bila aku tidak membalas SMSnya, ia akan mengirim pesan melalu media lain. Mulai dari messenger A sampe messenger C. Bagaimana bisa aku tidak berharap padanya? Nino juga mulai sering mengingatkanku makan, sholat, istirahat. Menanyakan kabar tugasku. Mengingatkanku untuk menjaga kesehatan, dan bertanya kesibukanku setiap harinya. Aku mulai terbiasa dengan kehadiran Nino. Nino adalah orang pertama yang kukabari saat aku terjaga, dan orang terakhir yang tau kegiatanku sebelum terlelap. Aku juga selalu menceritakan masalahku kepadanya, khususnya masalah organisasi. Nino pun kadang menceritakan masalah organisasinya kepadaku. Aku senang, orang sependiam Nino mau mempercayai orang yang baru dikenalnya seperti aku. Pada masa tiga bulan kedekatan kami itu, hanya satu kali kami pernah mengobrol berdua sekalipun Nino seringkali berjanji untuk bercerita banyak hal kepadaku. Dan ia hanya mau menceritakan secara langsung, bukan via messenger. Tiga bulan bersama Nino membuatku terlalu terbiasa dengan hadirnya. Bagaimana tidak, ia selalu ada di setiap pagiku. Dan ia selalu menemaniku sampai kuterlelap. Tapi anehnya, setelah tiga bulan itu Nino menghilang. Aku bagai tidak memiliki pegangan saat itu. Karena aku terbiasa membagi masalahku dengannya. Dan ia pergi di saat yang tidak tepat, di saat masalah bertubi menimpaku dan aku sangat membutuhkannya untuk mendengar kisahku dan memberi masukan serta menenangkanku, seperti biasanya. Saat Nino menghilang, aku tidak berusaha mencarinya karena feelingku berkata aku tidak boleh mencari Nino. Sejak ia tak pernah menghubungiku lagi, aku tau Nino tidak akan pernah kembali.
Beberapa hari setelah ia menghilang, aku mendapat kabar dari seorang kakak kalau Nino kembali ke pacarnya. Kita sebut saja dia Ve. Sejujurnya aku bingung menyebut Ve itu apa, karena ia dan Nino tidak pernah memiliki hubungan yang resmi. Yang aku tau, mereka sudah dekat selama tiga tahun. Bukan waktu yang sedikit memang, sehingga wajar bila akhirnya Nino meninggalkanku dan kembali kepada Ve. Saat pertama mendengar kabar Nino kembali kepada Ve, aku sama sekali tidak kaget. Karena ntah bagaimana feelingku memang berkata demikian. Saat itu, bahkan sampai saat ini pun, aku tidak menangis, walau hatiku rasanya remuk, walau aku merasa sangat kecewa, walau aku merasa sangat marah dan membenci Nino. Tidak setetes pun air mata jatuh. Aku pun tidak mengerti, bagaimana bisa aku tidak menangisi sakit hati ini.
Sejujurnya aku sudah cukup lama mengetahui siapa itu Ve dari kakak yang sama dengan yang memberitahuku saat Nino kembali kepada Ve. Saat minggu-minggu awal aku dekat dengan Nino, aku bertanya kepada kakak itu orang seperti apa Nino. Ia berkata Nino adalah orang yang baik lalu melanjutkan dengan kata-kata yang membuatku shock, "Nino sudah ada yang ngejagain di jurusan tapi," Saat aku bertanya definisi 'menjaga' yang bagaimana, kakakku berkata kalau mereka sudah tiga tahun dekat, digosipkan pacaran, tapi selalu mengelak. Aku mencari pembenaran saat itu, toh mereka tidak berpacaran. Tapi walaupun sudah lama tau mengenai Ve, tetap saja awalnya aku marah dan kecewa saat Nino menghilang. Tapi seiring berjalannya waktu, aku kini ikhlas dan merelakan Nino kembali kepada Ve. Memang benar, 'Cinta selalu pulang'. Dan Nino pulang kepada Ve, layaknya hakikatnya cinta. Ve sudah menemani Nino selama tiga tahun. Ia tahu sepak terjang Nino selama ini. Jadi wajar bila Nino meninggalkanku yang baru bersamanya tiga bulan. Aku hanya mengetahui sedikit keluh kesahnya, dan aku tidak bisa banyak membantu layaknya Ve.
Ve pernah menemuiku, tepatnya memaksa menemuiku walau aku sudah mengelak dengan beragam alasan. Tapi akhirnya aku mengalah juga karena aku merasa seperti dikejar-kejar. Bagaimana tidak, ia bahkan sampai datang ke jurusanku. Dari pertemuan dengan Ve itu aku mendapat gambaran jelas hubungannya dengan Nino. Rupanya mereka sudah dekat sejak sama-sama berstatus mahasiswa baru. Aku tidak akan menerangkan secara rinci, intinya mereka memiliki satu komitmen. Dan beberapa bulan lalu, tepatnya saat Nino sempat menghilang beberapa hari, mereka bertengkar sampai tercetus kata-kata untuk melupakan komitmen. Di saat mereka telah 'melupakan' komitmen itu, Nino semakin dekat denganku. Dan beberapa hari sebelum Nino pergi dari hidupku, mereka berbaikan. Ve sempat membaca semua SMS dan lainnya antara aku dan Nino di HP Nino. Ia marah besar dan itulah akhir hubunganku dan Nino.
Saat mendengar cerita Ve aku tidak marah kepadanya, aku malah merasa bersalah. Aku kecewa kepada Nino, dan diriku sendiri karena menanggapi semua kebaikan Nino. Bahkan sampai saat Nino pergi dan kembali kepada Ve, masih ada beberapa saat di mana rasanya ia masih mengingatku. Kadang ia masih membuat tweet yang isinya ditujukan untuknya. Dan untuk tweet itu aku yakin memang untukku, karena makna tersirat di dalamnya memang hanya ia dan aku yang tau. Tapi aku sudah tidak pernah menanggapinya, bagiku Nino hanya cerita lama. Aku telah mengikhlaskan ceritaku dengannya.
Lalu, perubahan apa yang Nino bawa ke hidupku? Di antara beberapa orang yang pernah mampir di hidupku, Nino mungkin yang paling sebentar, tapi ia yang membawa paling banyak perubahan. Perubahan pertama adalah dari segi penampilan. Nino adalah pribadi yang pendiam, hal itu membuatku merasa harus merubah diriku menjadi lebih kalem untuk menyamakan dengannya. Aku merubah penampilanku menjadi lebih 'wanita'. Aku jadi rajin mengenakan rok dan berpenampilan lebih feminin. Dan ternyata sampai saat ini aku lebih nyaman dengan penampilan itu walau aku tidak benar-benar meninggalkan gaya berpakaian lamaku. Nino adalah ketua organisasinya, dan hal itu memotivasiku untuk meraih prestasi yang baik pula di organisasiku. Ia sangat banyak membantuku di saat aku kebingungan masalah organisasi dan membantuku mendapat solusi dari masalah organisasi tersebut. Dan saat ia pergi, aku telah menjadi pribadi yang berbeda di organisasiku. Aku menjadi lebih aktif dan lebih berani mengambil keputusan. Saat ini aku bahkan dipercaya menempati suatu posisi yang cukup baik di organisasiku. Perubahan terakhir adalah dalam masalah kesehatan. Aku pernah mengalami masalah kesehatan yang cukup serius beberapa tahun lalu, tapi walau begitu aku masih saja bandel dan malas menjaga kesehatan. Nino ternyata tidak lebih sehat dariku. Ia juga memiliki masalah kesehatan yang sering membuatku khawatir karena ia sering tidak menjaga kesehatan dirinya. Aku pun secara tak sadar menjadi lebih menjaga kesehatanku dengan menghindari beragam makanan dan minuman yang tidak baik untuk kesehatan. Bahkan aku juga jadi lebih peduli dengan kesehatan orang-orang di sekitarnya, layaknya aku peduli dengan kesehatan Nino dulu.
Nino memang bukan untukku. Ia memang telah 'pulang' ke cintanya. Tapi beragam kebaikan yang pernah ia berikan tidak akan pernah hilang. Aku yakin, suatu hari nanti akan ada laki-laki lain untukku, dengan pertemuan dan cerita yang lebih indah dari kisahku dan Nino.
"Segala kebaikan takkan terhapus oleh kepahitan. Ku lapangkan resah jiwa karena ku percaya kan berujung indah." - Padi, Harmony
Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway 4th Anniversary Emotional Flutter

2 komentar:

  1. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.

    Anyway, thanks udah ikutan giveaway Emotional Flutter =)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terharuu, makasih Ko :") Iyaa Ko, aku percaya kok akan ada kebahagiaan lain untukku setelah Nino pergi.
      Samasama Ko :)

      Hapus