Rabu, 14 Agustus 2013

The Trick Is To ENJOY LIFE

Bagaimana bisa aku menikmati hidupku apabila aku bahkan tidak bahagia menjalaninya? Pertanyaan itu pernah berkelebat di benakku. Cukup sering malah. Dan rasanya tidak hanya di benakku, namun juga di benak beberapa orang lainnya. Aku pernah merasa tidak bahagia dengan hidup yang kujalani. Padahal aku memiliki kehidupan yang nyaris sempurna. Keluargaku memang tidak kaya raya, tapi apa pun yang kuminta hampir selalu dikabulkan oleh kedua orang tuaku, walau terkadang aku harus menunggu. Terlepas dari harta, keluargaku nyaris sempurna. Tidak hanya keluarga kecil yang hangat, aku juga memiliki keluarga besar yang sangat dekat, layaknya keluarga kecil yang bertemu setiap hari walau kami hanya dapat berkumpul lengkap satu tahun sekali. Tidak banyak teman yang kukenal yang memiliki kedekatan layaknya aku dan keluarga besarku, karenanya aku sangat membanggakan hal itu. Aku juga tidak kekurangan teman, aku memiliki beberapa teman dekat yang hampir selalu menemaniku setiap hari di sekolah.
Lalu bagaimana bisa dengan kehidupan sesempurna itu aku menjadi tidak bahagia? Itu semua bermula dari passion. Sampai nyaris di penghujung tahun ketiga SMAku aku tidak juga tau akan ke mana aku kelak. Mau menjadi apa aku di kemudian hari? Saat teman-temanku sudah tau akan ke mana ia berkuliah, aku masih tidak memiliki tujuan. Bahkan di saat itu beberapa temanku sudah terdaftar di beberapa sekolah tinggi di kotaku. Aku yang walaupun sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah tinggi sedikit banyak mulai merasa panik karena merasa tidak memiliki tujuan melangkah. Kedua orang tuaku pun mulai sering bertanya di mana aku akan melanjutkan pendidikanku. Sejujurnya saat itu aku sama sekali tak tahu ke mana aku akan melanjutkan pendidikanku. Aku tidak memiliki cita-cita. Yang aku tau, aku hanya ingin kuliah S-1, bekerja, menikah, lalu melanjutkan pendidikan S-2 ke luar negeri. Tapi kuliah S-1 di mana? Pertanyaan itu yang tidak kunjung dapat kutemukan jawabannya. Aku tidak ingin menjadi dokter atau bekerja di bidang kesehatan seperti beberapa orang anggota keluargaku. Aku juga tidak ingin menjadi guru atau berkutat di bidang pendidikan seperti harapan beberapa temanku. Menjadi seorang akuntan atau bekerja di belakang meja pun tidak pernah menjadi mimpiku.
Dulu, saat aku masih duduk di tahun pertamaku SMA, aku sering bercanda dan bercerita kepada ibuku kalau aku ingin menjadi seorang duta besar lalu bekerja di berbagai negara di luar negeri. Tentu aku akan mengajak kedua orang tuaku turut serta lalu kami bisa berjalan-jalan bersama. Saat ibuku bertanya bagaimana bila cita cita itu tak dapat kuraih, aku menjawabnya dengan canda. "Kalau begitu aku akan menikah dengan duta besar, lalu tinggal di luar negeri bersamanya." Tapi beberapa tahun setelahnya, saat aku harus menentukan pilihan ke mana aku akan melanjutkan pendidikan, menjadi duta besar tidak terlihat menyenangkan. Baru kusadari, aku tidak benar-benar ingin menjadi duta besar yang harus bekerja di luar negeri. Aku terlalu takut membayangkan menjadi orang yang memegang peran penting dalam menjaga citra negara di mata dunia. Aku lebih ingin melanjutkan pendidikan di jurusan komunikasi. Mengapa? Entahlah, aku hanya ingin. Namun saat aku mengutarakan keinginanku, seorang pamanku menertawakanku dan bertanya untuk apa aku ingin kuliah komunikasi. Sudah ada satu orang di keluargaku yang kuliah komunikasi dan lalu berakhir di dapur, menjadi seorang ibu rumah tangga. Aku terpaksa mengubur harapan itu.
Aku juga pernah berkata kepada ibuku aku ingin menjadi psikiater. Tapi keinginan ini ditolak mentah-mentah oleh beliau. Bagi ibuku, psikiater adalah dokter bagi orang yang mengalami gangguan jiwa. Lagi-lagi aku mengubur harapanku.
Terakhir, aku berkata ingin menjadi ahli gizi. Kedua orangtuaku tidak terlalu menyetujui harapanku ini, ntah karena apa. Tapi untuk harapan yang satu ini, aku bersikeras. Paling tidak harus ada satu mimpiku yang kupilih menjadi satu pilihan di ujian SNMPTN. Akhirnya orang tuaku setuju aku mengambil pilihan gizi di pilihan ketiga formulir SNMPTN.
Lalu apa pilihan pertama dan keduanya?
Walau aku sudah tidak ingin menjadi duta besar, rupanya kedua orangtuaku masih menganggap duta besar adalah mimpiku. Mereka menyarankan aku memilih hubungan internasional di salah satu pilihan kuliahku. Dengan gamang aku menyanggupi. Memasukkan hubungan internasional di pilihan kedua SNMPTN.
Lalu apa pilihan pertamanya?
Ini cukup menggelikan. Ntah bagaimana, ibuku menyarankan aku memilih arsitektur menjadi pilihan pertamaku. Aku tidak terlalu yakin dengan pilihan itu, karena sepertinya arsitek tidak pernah menjadi impianku. Namun ibuku bercerita, saat aku kecil aku kerap kali bercerita ingin memperbaiki rumah nenek yang sudah tua termakan waktu. Waktu kecil dulu, aku ingin menjadi arsitek. Dan cita-cita masa kecil itu yang ibuku pegang hingga detik ini. Demi membahagiakan kedua orang tuaku, aku setuju memilih arsitektur sebagai pilihan pertama.
Saat pengumuman SNMPTN keluar, aku lolos di pilihan pertama. Arsitektur di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Alangkah bangganya aku. Mulai detik itu tidak hanya kakakku yang calon dokter yang dibanggakan kedua orangtuaku, tapi aku juga menjadi anak kebanggaan mereka. Saat mendengar kedua orang tuaku bercerita kepada saudara dan teman-temannya kalau aku lolos SNMPTN di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini, hatiku rasanya akan meledak oleh rasa bangga. Lalu, dengan semua kebanggaan itu tidak mungkin rasanya aku tidak bahagia.
Awal kuliah terasa menyenangkan. Namun beberapa bulan kemudian mulai terasa berat. Tinggal sendiri jauh dari orang tua memaksaku menjadi anak yang lebih mandiri. Mengurus hal-hal sendiri mulai dari menyiapkan keperluan kuliah di pagi hari, mencari pengisi perut tiga kali sehari, sampai mengurus cucian kotor. Berat? Tentu saja. Tapi bukan itu bagian terberatnya. Menjadi mahasiswa arsitektur tanpa cita-cita menjadi seorang arsitek jauh lebih berat dari semua pekerjaan rumah tangga yang harus kuurus sendiri. Seringkali aku merasa lebih suka membereskan kamar kostku yang seringkali porak-poranda dibanding mendengarkan dosen menerangkan mata kuliah yang kadang tidak mampu diserap otakku. Sering juga aku merasa lebih mampu berjalan keliling kampus untuk mencari warung yang buka dibanding harus melihat karya desain teman seangkatanku yang sangat jauh lebih baik dibanding desainku yang hampir selalu dikritik habis oleh dosen pembimbing. Belum lagi rasa iri yang diam-diam menjalar di hati bila mendengar temanku bercerita kalau ia sudah dipercaya memegang suatu proyek sederhana. Bagaimana bisa aku bahagia dengan kondisi menyesakkan seperti itu? Saat itu aku merasa tak lagi punya masa depan. Aku pesimis, bahkan rasanya akan menyerah, aku tidak ingin menjadi arsitek. Aku merasa tak mampu untuk terus melanjutkan studi. Aku tak yakin akan sanggup menyelesaikan TA seindah senior-seniorku yang sudah duduk di tahun akhirnya.
Selama satu tahun lebih aku merasa seperti itu. Yang menguatkanku adalah kesadaranku bahwa sudah terlalu terlambat untuk mundur. Aku tidak pernah bercerita beratnya kuliah arsitektur kepada mereka. Aku tidak ingin mereka kecewa. Karena itu aku terus memaksa diriku untuk menjalani hari-hari yang berat ini dan mulai mencintai arsitektur secara pelan-pelan. Aku mulai belajar mencintai bangunan-bangunan yang indah. Aku mulai belajar mengenal arsitek-arsitek terkenal dunia.
Di tengah usahaku belajar mencintai arsitektur tersebut, aku terjun ke dunia organisasi sebagai pelarian dari rasa jenuh kuliah. Dan nyatanya, aku jatuh cinta dengan organisasi. Aku menemukan keluarga baru, kesibukan baru, dan yang terpenting aku menemukan passionku. Aku begitu bahagia saat mengatur sebuah kegiatan. Dari situlah aku tau, passionku menjadi seorang event organizer. Passionku memang tidak berhubungan dengan arsitektur, tapi kalau bukan karena kuliah arsitektur di perguruan tinggi ini, mungkin aku tidak akan 'melarikan diri' dengan terjun di organisasi lalu menemukan passionku. Apalagi, dengan bangganya aku berkata kalau kampusku memiliki organisasi yang cukup kuat bila disandingkan dengan kampus-kampus lain di Indonesia. Aku tidak akan malu menyandingkan kampusku dengan kampus hebat ber-almamater kuning atau warna lainnya. Kuliah di perguruan tinggi ini, walau awalnya menyiksaku, tapi membuatku sangat bangga. Prestasiku di organisasi juga cukup baik. Hal itulah yang semakin mendorongku memperbaiki prestasi akademisku.
Walau awalnya berat, walau penuh air mata, walau pernah terpikir menyerah, tapi aku bersyukur Allah memilihkan perguruan tinggi ini untukku. Karena di sini aku banyak mendapat pelajaran hidup. Aku bisa mengenal banyak orang baru yang memotivasiku, aku mendapat pengalaman baru yang penting untuk bekalku di kemudian hari. Dan sekarang, masih di tengah usaha untuk mencintai arsitektur, aku sedang mengerjakan proyek sederhana pertamaku. Doakan saja proyek kecil ini bisa membuatku lebih mencintai arsitektur :)
Tulisan ini diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway “Blessing in Disguise


2 komentar:

  1. Semangat Trs utk mencintai dunia arsitektur.. & sukses utk proyek nya ya
    Sudah terdaftar ya.. Thanks :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih doanya, Mbak. Mungkin besok-besok setelah saya jadi arsitek sungguhan bisa pake jasa saya hihi *promosi :3

      Hapus