Sabtu, 26 Oktober 2013

Bahagia Itu Hanya Sementara

To the point saja, apa kabar hati?
Hatiku sedang harus direset. Dikembalikan lagi ke settingan awal sebelum Nugie datang dan merusak tatanannya yang sudah nyaris sempurna. Apa itu berarti aku menyalahkan Nugie? Tidak, tentu saja tidak. Bagaimana bisa aku menyalahkannya yang sempat berbaik hati menemaniku beberapa saat. Aku hanya membenci diriku sendiri yang terlalu lemah, terlalu mudah percaya pada orang lain dan sembarangan meletakkan hati.Mungkin Nugie tidak pernah bermaksud melukai hatiku. Mungkin sejak awal ia memang adalah orang yang baik kepada siapa saja, terlepas dari segala keisengan dan sikapnya yang kadang seperti anak kecil. Tapi justru sikap seperti anak kecilnya itu yang membuatku menyerah dan merasa harus mereset hatiku. Ia memang baik dan terkadang perhatian, tapi terkadang ada juga saatnya aku yang harus mengalah kepadanya sampai mengorbankan diriku sendiri. Apa itu berarti aku tidak mau berkorban? Bukan, bukan begitu. Aku tau pasti cinta selalu butuh pengorbanan. Tapi kalau di awal saja aku sampai harus berkorban perasaan dan air mata nyaris setiap hari, aku takut membayangkan bagaimana ke depannya. Aku pesimis sekali membayangkan hari esok. Ya, aku akui aku memang pesimis. Aku masih trauma untuk kembali sakit hati di saat mengenang Nino masih terasa menyesakkan hati. Seorang teman berkata kepadaku, bila aku tidak berani berkorban untuk Nugie, berarti yang aku rasakan sekarang bukan cinta namanya. Jujur, kata-katanya menyakitiku. Aku tidak suka perasaanku kepada Nugie diragukan. Apalagi di saat ia sudah berhasil mengambil air mataku. Kalau bukan cinta, lalu ini apa? Tapi tak urung pernyataan itu membuatku kadang ragu juga. Apa iya aku mencintai Nugie? Aku plin plan sekali, bahkan aku tidak bisa mengenali perasaanku sendiri.
Mari mundur sejenak dan kembali menelaah alasanku sampai harus mereset hati. Aku menyukai Nugie sudah cukup lama, tapi aku masih bertahan di garis pertemanan dan tidak pernah berharap lebih. Aku tidak berani melangkahkan kaki di luar garis pertemanan dan memilih untuk memandang Nugie dari dalam garis sambil menikmati setiap detik pertemanan kami. Lalu semuanya berubah malam itu. Malam di saat aku berada di titik terlemah dalam beberapa bulan belakangan ini. Nugie bertanya apa yang terjadi padaku, mengapa aku menangis dan sebagainya. Ia tidak menawarkan kata-kata manis penghibur yang menyejukkan hati. Tidak, itu sangat bukan Nugie sekali. Ia hanya berada di sana, siap mendengarkan di saat aku ingin bercerita. Siap menemani saat aku ingin keluar sejenak dari segala rutinitas. Nugie beberapa kali mengajakku pergi, menemaniku melupakan segala masalah. Nugie memang tidak membantuku menyelesaikan masalah, namun ia membantuku melupakan masalahku. Nugie selalu punya cara yang aneh untuk membuatku kembali tertawa. Nugie dengan segala joke menyebalkannya, Nugie yang tidak pernah menunjukkan perhatiannya di depan teman-teman lain, Nugie yang sanggup membuatku meletakkan hati dan meneteskan air mata kembali setelah sekian lama Nino menghilang. Semuanya sangat sempurna kan? Iya sampai aku sadar hidupku tidak lagi sama. Nugie terlalu memengaruhi hidup dan moodku. Aku yang awalnya merasa bebas dan bahagia tanpa ada ikatan dengan siapapun menjadi terlalu tergantung pada Nugie. Saat Nugie badmood dan mulai marah-marah, maka di saat yang sama aku akan sangat galau dan mulai melankolis. Di saat Nugie hadir dengan moodnya yang sedang baik maka di saat yang sama moodku juga akan membaik.Begitu pun saat aku sedih, Nugie selalu bisa membuatku tersenyum lagi. Nugie terlalu memengaruhi hari-hariku. Seperti yang aku katakan, aku tidak lagi merasa menjadi independent woman. Padahal aku adalah wanita yang sangat menjunjung kebebasan. Saat aku menyadarinya, itu adalah titik awal aku merasa semuanya harus segera diakhiri. Dan semuanya memuncak di saat aku mulai merasa tidak sanggup menghadapi Nugie yang terkadang seperti anak kecil. Keisengannya mulai keterlaluan, sampai membuatku menangis karena kesal bahkan. Ntahlah, bisa jadi aku yang terlalu cengeng. Ia juga kerap kali menunjukkan sisi egoisnya. Aku bukannya tidak bisa menerima itu semua, aku hanya takut membayangkan hubungan kami ke depannya.
Jadi ya, pada titik inilah aku memutuskan mereset hatiku. Aku mundur dari lingkaran pertemanan kami. Aku menghilang sementara dari segala rutinitas dan lebih memilih untuk menyendiri atau menyibukkan diri di tempat lain. Kadang memang masih ada saat di mana aku mengharapkan ia akan datang dan segalanya kembali seperti dulu, namun aku bergegas kembali ke kenyataan. Semua tak lagi sama antara aku dan dia.