Jumat, 15 November 2013

Karena Hati Tidak Bisa Memilih

Bagaimana bisa aku berhenti menyukai seseorang yang sangat loveable sekaligus hate-able at the same time? Walau sampai detik ini pun aku masih meragu, walau sampai detik ini masih tidak ada jaminan aku akan bahagia selamanya bersama dia, walau kadang masih ada air mata yang jatuh karena dia, tetap saja aku tidak bisa berhenti menyukainya. Tetap saja aku tidak bisa berhenti berharap ia menghubungiku, tetap saja aku tidak bisa berhenti tertawa atas candanya, tetap saja ekor mataku membuntuti gerak-geriknya. Sebut aku plin plan, karena nyatanya memang ya, aku terlalu plin plan untuk memutuskan akan kubawa ke mana hatiku sendiri. Aku pernah mencoba menjauh beberapa kali, tapi akhirnya aku selalu kembali. Aku pernah menyerah, tapi perhatian kecilnya kembali membuatku mendekat.
Ia tidak pernah menunjukkan perhatiannya di depan teman-temanku, begitu pun aku. Aku selalu memperlakukan dia dengan perhatian yang sama dengan perhatianku kepada teman-temanku yang lain. Tapi saat kami sedang berdua, ia bisa menjadi sangat perhatian. Mengingatkanku untuk makan, minum obat, memakai jaketnya supaya aku tidak kedinginan, mengomel saat aku lupa makan, menemaniku saat aku rindu rumah, memastikan aku tidak kehujanan, dan sebagainya. Semua itu hanya perhatian kecil, aku tahu. Tapi perhatian itu berbanding terbalik dengan bagaimana ia di depan teman-temanku. Ia akan menjadi orang yang sangat menyebalkan. Mengomel bila aku meminta tolong, tidak pernah berkata maaf dan tolong, mengejek saat aku menangis, marah kepada semua orang bila bad mood, dan sebagainya. Karena itu, semua perhatiannya sekalipun hanya perhatian kecil menjadi sangat berarti untukku. Apalagi karena memang sebenarnya aku sudah menyimpan rasa untuknya sejak lama.
Hatiku sudah tidak bisa berdusta. Aku sepenuhnya menyukainya. Hatiku mulai protes saat ia merayu teman-temanku, oke aku tau itu hanya candaan, tapi tetap saja aku tidak suka. Sejak awal ia tidak pernah merayuku dengan gombalan kacangan, tidak pernah. Aku hanya takut teman-temanku menaruh hati padanya bila ia terlalu sering merayu mereka. Aku tidak ingin bersaing dengan temanku sendiri untuk urusan cinta.
Ah sudahlah, aku jadi terlalu melankolis bahkan sampai cemburu berlebihan pada temanku sendiri. Memalukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar