Kamis, 11 Desember 2014

Mengeluarkan Semua Racun

Malam ini racun-racun di dalam otak dan hati merasa perlu dikeluarkan. Lelah teramat sangat, terlalu lama ditumpuk hingga akhirnya jadi racun yang mengarat. Racun yang paling besar dimulai bulan lalu. Saat kamu tiba-tiba menghilang. Tiba-tiba pergi kemudian mempermaikan hatiku selama dua minggu. Dan saat kamu kembali, apa yang terjadi? Aku bersikap biasa saja, baik-baik saja. Menanggapi sapaan ceriamu dengan senyum. Menanggapi ceritamu dengan anggukan ramah, seakan tidak ada yang terjadi. Padahal siapa yang tau pada saat itu hatiku berdarah? Sejak detik itu, aku tidak pernah baik-baik saja. Aku marah kepada diriku sendiri yang begitu mudahnya menerimamu kembali. Padahal, aku bisa marah dan membentak mereka yang mengalami hal yang sama denganku dan begitu bodohnya masih memaafkan. Dan aku tau, kamu menghilang bukan untuk yang terakhir. Akan ada lagi saat seperti itu, dan aku masih akan menerimamu dengan tangan terbuka.
Tapi tunggu. Nyatanya sebagian hatiku tertutup. Ia lelah disakiti, lelah dengan kamu yang seperti ini. Dan aku kehilangan hampir semua yang membangun hubungan kita dulu, hanya menyisakan cinta. Iya, aku masih mencintaimu, aku masih menyayangi tanpa ragu, tapi aku kehilangan kepercayaan, kehilangan sebagian kepedulian, kehilangan mimpi, dan selalu diburu rasa takut.
Sejak detik itu, aku tidak pernah mempercayaimu sepenuhnya. Semua mimpi itu, semua harapan untuk menikah 2,5 tahun lagi, untuk membangun keluarga bersamamu, aku tidak pernah benar-benar percaya sepenuhnya. Bila dulu aku menelannya mentah-mentah, tidak dengan saat ini. Bagaimana aku bisa percaya kalau sebagian hatiku masih merasa kamu akan kembali menghilang? Bagaimana aku bisa mencita-citakan menghabiskan hidup bersamamu, kalau sebagian otakku sibuk berpikir apa alasan yang akan aku utarakan kepada anak kita nanti saat kamu tidak pulang ke rumah? Dan sejujurnya, sebagai seorang wanita pun ada perasaan tidak percaya yang lebih besar dari itu. Aku tidak percaya kamu mau menghabiskan hidupmu bersamaku, aku yang tidak cantik, tidak seksi seperti yang kamu mau. Dan semua itu cukup menjadi racun untuk membuatku menjaga jarak. Aku juga tidak ingin kehilangan kepercayaan seperti ini. Apalagi sejak terakhir kali itu, aku merasa sebenarnya kamu sudah berubah menjadi lebih baik, hanya saja masih susah melupakan rasa sakit yang aku rasakan. Kamu mungkin tidak tahu, karena pada saat itu hidupmu baik-baik saja, tapi bagiku saat itu hidupku dijungkir balikkan.
Kamu pernah merasakan menangis setiap malam selama dua minggu? Kamu pernah merasakan begitu sedih sampai kamu tidak peduli apa yang ada di sekitarmu? Sampai kamu tidak sadar saat itu dosen sedang menerangkan materi kuliah dan yang kamu lakukan hanya duduk diam dan menangis sendirian. Kamu pernah merasakan menangis histeris di tengah keramaian karena orang yang paling kamu sayangi menganggapmu tidak ada? Kamu pernah merasakan tidak bisa tidur berhari-hari dan pada akhirnya kamu harus minum obat alergi setiap malam hanya karena kamu ingin tidur dan melupakan semuanya? Kamu pernah merasakan sakit hati karena apa yang kamu lakukan nyatanya tidak dihargai? Kamu pernah merasa tidak mampu sendiri, selalu menempel kesana kemari dengan orang lain, karena kamu tau detik saat kamu sendiri, maka detik itu pula kamu akan mulai menangis? Kamu pernah merasakan hidupmu kehilangan arah, bahkan kamu tidak peduli kalaupun pada hari itu kamu sama sekali tidak makan? Kamu pernah begitu lelah menangis, begitu lelah berpikir apa salahmu hingga kamu akhirnya jatuh tidur dalam tangis dan bangun dengan badan yang demam karena terlalu banyak tekanan? Kamu pernah ada di fase begitu lelah dan akhirnya memilih untuk menyendiri, meninggalkan orang-orang dan memilih menghabiskan waktu dengan dirimu sendiri? Aku sudah melewati semua itu, dan banyak luka lainnya, karena kamu. Hanya karena dua minggu itu, aku begitu hancur. Kamu bisa membiarkanku memelukmu dengan hangat pada malam sebelumnya, berkata kamu menyayangiku pada pagi harinya, lalu tiba-tiba menghilang dan berkata sudah tidak mampu bertahan malam harinya. Kemudian seminggu kemudian kamu berkata bahwa kita baik-baik saja dan kamu perlu waktu untuk sendiri. Beberapa hari kemudian kamu berkata bahwa kamu masih menyayangiku dan menyuruhku berhenti menangis. Kamu tau, aku lelah. Sangat. Sangat lelah dengan dramamu mempermaikan perasaanku, dengan dramamu yang pergi minta dicari lalu kembali seakan kamu tidak ada salah. Namun kembali lagi, aku terlalu menyayangimu hingga aku selalu mengalah. Dan akan selalu seperti itu. Tapi aku butuh untuk kembali percaya lagi. Aku tidak mau melanjutkan hidup dengan racun ini setiap hari. Bangun dengan rasa takut kamu akan menghilang. Menghabiskan waktu bersama padahal hati sudah tidak percaya. Aku tidak mau, dan aku tidak akan mampu. Aku takut bila ini terus-terusan berjalan maka akhirnya aku akan menyerah, karena aku bosan.
Tolong, hari ini kembali lah. I need you the most. Aku butuh kamu, tolong peluk aku dan katakan bahwa kita baik-baik saja. Tolong berjanjilah untuk tidak akan kembali menghilang, karena aku sudah lelah dengan racun ini. Karena aku sudah nyaris menyerah berusaha mengeluarkan racun ini sendiri.

Senin, 08 September 2014

Hari Ini, Satu Tahun yang Lalu

Hari ini, satu tahun yang lalu tepat pada jam yang sama saat aku menulis ini, aku mungkin sedang tidur nyenyak tanpa sadar bahwa hari itu aku akan bertemu dengan seseorang yang sangat berharga. Seseorang yang akan menemaniku di tahun-tahun setelahnya, seseorang yang akan membuatku berubah menjadi lebih baik, seseorang itu kamu.
Yang aku ingat, malam itu adalah malam pertama aku kembali ke rantau setelah menghabiskan libur dua bulan di rumah. Malam pertama selalu menjadi yang terberat. Aku masih sangat merindukan rumah, dan masih ada rasa lelah yang tersisa setelah sebelumnya menghadiri rapat tepat setelah aku meletakkan koper yang masih belum tersentuh di kamar kostan. Aku masih belum bisa menerima kenyataan, setelah dua bulan hanya makan-tidur-internetan-bermalas-malasan, aku harus kembali ke rutinitas normal. Kuliah dan rapat hingga malam setiap harinya. Apalagi sebenarnya libur yang kupunya masih bersisa dua minggu, atau bahkan lebih lama. Namun aku harus kembali lebih awal sebagai pertanggung jawabanku sebagai pengurus organisasi dan konseptor ospek jurusan di kampus.
Aku ingat sekali, aku baru kembali ke rantau tanggal 25 Agustus 2013, dan setelah menaruh barang-barang di kostan aku langsung berganti pakaian, sholat Maghrib, lalu berangkat ke kampus untuk menghadiri rapat konseptor ospek jurusan. Aku ingat sambutan yang diberikan saat aku tiba. Anak hilang yang sekian lama tidak hadir rapat karena pulang kampung akhirnya tiba. Dan lalu aku mendapat kabar untuk datang jogging dan sarapan bersama esok harinya bersama pengurus inti organisasi yang kuikuti. Organisasi yang melibatkan kamu di dalamnya.
Dan pagi harinya, pagi hari di tanggal yang sama dengan hari ini, aku sudah berangkat sejak pagi dari kostan. Bersama sahabatku yang adalah ketua organisasi kita. Dan masih belum ada satu orang pun yang datang. Pada akhirnya kamu menjadi orang keempat yang datang hari itu. Kamu datang terlambat. Datang saat matahari sudah tinggi dan sudah tidak mungkin jogging dengan sinar matahari sepanas itu. Kamu dengan sikap serampangan dan menyebalkanmu langsung meminta kunci sekretariat pada kami bertiga yang memilih menghabiskan waktu mengobrol di luar ruang sekretariat. Bahkan saat ketua organisasi kita mengenalkanmu padaku, kamu hanya mengangkat wajah sekilas dengan wajah tidak peduli. Sungguh, dengan sikap seperti itu siapa sangka kita akan menjadi seperti ini sekarang. Siapa sangka kamu ternyata adalah orang yang sangat perhatian. Siapa sangka detik ini, setelah satu tahun berlalu aku sangat menyayangimu.

--- tulisan ini ditulis 26 Agustus 2014 ---

Senin, 25 Agustus 2014

Kembali. Jangan Pergi. Aku Menunggu.

Aku tidak tau harus menuliskan apa. Yang aku tau, aku sudah menangis untuk setidaknya tiga hari. Dan ntahlah, mungkin masih ada hari yang tersisa untuk aku menangis. Aku takut. Hari ini yang aku rasakan hanya takut. Aku takut kehilanganmu. Namun aku juga takut mengekangmu. Memaksamu untuk bertahan di saat keyakinanmu untukku sudah tak bersisa. Aku terlalu mencintaimu. Tanpa sedikit pun keraguan, aku sangat mencintaimu. Sejak dulu, walau orang-orang mempertanyakan hubungan kita, walau mereka bilang kamu kekanakkan, walau mereka ragu kita akan bertahan, aku tidak pernah ragu. Segala alasanmu, segala masalahmu, segala kekurangan yang kamu ceritakan padaku pun tidak membuatku ingin mundur. Aku bertahan untukmu. Aku bertahan dengan segala kekuranganmu. Karena aku cinta. Sesederhana itu. Dan lalu semua menjadi lebih baik. Sangat lebih baik. Segala janjimu, segala rencana masa depan kita, segala doa dan harapan kita untuk masa depan yang lebih baik. Semua hal yang melibatkan 'kita'. Dan lalu badai ini datang. Meremukkan, menghancurkan, dan menggoyahkan. Aku takut kamu goyah. Aku takut kamu ragu dan akhirnya merasa bahwa akan lebih baik kalau tidak ada kita. Aku takut.
Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu. Dan ada begitu banyak perasaan berkecamuk di hatiku. Aku lelah. Jujur ku akui, aku lelah. Aku lelah setiap memejamkan mata selalu ada bayangan hal-hal manis yang telah kita lalui. Aku lelah, setiap suasana terasa sunyi rasanya aku dapat mendengar suaramu dan segala janji manismu. Aku lelah menangisimu terus dan terus. Aku lelah namun aku tidak bisa beristirahat. Aku tidak dapat tidur nyenyak. Bagaimana bisa aku tidur bila hatiku terluka dan selalu menunggu kabar darimu? Bagaimana bisa aku tertidur bila setiap ada suara dari HPku aku selalu terperanjat lalu kembali terluka, karena itu bukan kamu. Sejujurnya, apa yang terjadi? Di manakah kamu? Ada apa denganmu? Tolong jujurlah. Bila masih ada kesempatan untuk kita, mari berjuang bersama. Namun bila sudah tak ada, katakan agar aku tidak terus berharap. Tolong, jangan ada yang disembunyikan. Setidaknya untuk saat ini kita masih sepasang kekasih kan?
Aku tidak tau apa salahku sehingga kau begini. Apa hanya karena keributan kecil hari itu? Hanya karena aku selalu menerima semua keputusanmu tanpa ragu? Hanya karena kamu menganggapku tidak punya pendirian? Hanya karena itu? Atau karena keluhan kesalku sore itu? Keluhan kesal yang sudah kuakhiri dengan maaf namun kamu menyambutnya dengan marah dan diam. Diammu yang berujung sampai hari ini. Empat hari setelah kejadian itu.
Atau hanya karena kamu butuh waktu untuk sendiri? Sendiri untuk merenungkan semua masalahmu. Lalu sebenarnya aku bertanya, apa gunanya aku? Bukankah aku ada di sampingmu untuk membantumu meringankan masalahmu? Atau jangan-jangan kamu terlalu malu membagi masalahmu denganku? Kamu malu dan takut aku pergi karena masalahmu? Bukankah sudah berkali-kali kubilang, tidak pernah terbersit niat untuk pergi seberat apapun masalahmu. Karena kamu adalah sebagian diriku, maka mestinya masalahmu pun dapat kutanggung dan kubantu untuk menyelesaikannya bersama. Namun, seperti biasanya, hari ini pun aku mengalah. Aku mengalah dan membiarkan pesan singkatku hanya dibaca tanpa dibalas. Aku mengalah dan mendukungmu diam-diam dalam doa. Aku mengalah dan memberimu waktu selama yang kau butuhkan.
Masihkah kamu meragu kalau aku akan bertahan bersamamu seburuk apapun kondisinya? Aku tidak peduli seberat apapun masalahmu. Aku tidak peduli walau mungkin kehidupanku bersamamu tidak secukup kehidupanku saat ini. Aku tidak peduli walau aku harus bekerja, mengorbankan apa yang kusuka demi membantumu membangun keluarga kecil kita. Dan mungkin harus kuingatkan sekali lagi, aku tidak pernah memandangmu dari segi materi. Tidak pernah. Aku tidak mengerti mengapa kamu masih saja menganggap bahagiaku adalah materi. Aku tidak paham. Bukankah sudah ratusan kali kukatakan, aku mencintaimu dan aku percaya bahwa kita bisa bahagia bersama, bagaimana pun keadaannya.
Dan sampai hari ini pun, setelah nyaris seminggu kita hanya diam. Aku masih menunggu. Menunggu sampai kamu akan bercerita apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sebenarnya kau rasakan. Menunggu janjimu saat kau berkata bahwa kita akan membicarakan ini suatu saat nanti. Semoga hal ini, air mata ini, risau ini, tidak berakhir buruk bagi kita Sayang. Semoga segalanya yang terbaik untuk kita, semoga.

Jumat, 23 Mei 2014

Pagi Hari Setelah Kamu Naik Setingkat Lebih Tinggi

Aku tidak tahu harus memulai dari mana.Yang aku tau pasti, aku selalu gelisah lebih dari seminggu ini. Berdoa dan berdoa, walau aku tidak yakin pasti apa yang sesungguhnya aku inginkan. Dan aku sudah menangis dua hari belakangan.Walau aku memakai topeng senyum palsu, tapi aku kembali menangis saat aku teringat lukaku. Dan aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus menangis. Mungkin sampai aku ikhlas, dan saat ini aku berusaha untuk ikhlas.
Selamat untukmu, yang sekali lagi naik tingkat. Setingkat lebih tinggi. Setingkat lebih hebat. Setingkat lebih sempurna. Dan banggakah aku memiliki pacar sehebat kamu? Saat kamu dapat mencapai suatu prestasi yang tidak sembarang orang dapat mencapainya. Mereka bilang aku seharusnya bangga. Tapi tidak, sejujurnya tidak ada sedikit pun kebanggaan di hatiku. Aku malah menangis. Aku tidak tahu, rasanya hatiku berantakan. Katakanlah aku egois, namun aku tau, dengan kamu naik tingkat, maka kita tidak akan sedekat belakangan ini. Dan aku tau, semua mimpiku dan semua yang pernah kamu cetuskan untuk tahun depan kita hanyalah rencana. Dan selain itu, aku tidak merasa pantas untuk berbangga. Mereka bilang dibalik pria hebat ada wanita yang selalu mendukungnya. Namun aku merasa kehebatanmu adalah hasil kerja kerasmu sendiri. Aku tidak turut andil sedikit pun di dalamnya.Aku memang selalu mendukungmu, dan ke depannya nanti aku akan masih selalu mendukungmu, tapi aku seringkali merasa sesungguhnya dukunganku tidak berarti. Tanpaku pun kamu masih akan baik baik saja. Jadi bagaimana bisa aku bangga atas sesuatu yang tidak aku lakukan?
Sejak kamu bercerita kalau kamu akan mendaftar di sana, sejak hari itu aku gelisah. Apalagi saat kamu bercerita konsekuensinya kepadaku. Aku semakin gelisah. Namun aku bisa apa? Satu-satunya yang bisa aku lakukan hanya mendukungmu, karena aku tau yang kamu butuhkan adalah dukungan. Dan sejak saat itu setiap sujudku dipenuhi dengan doa untukmu. Untuk segala yang terbaik untukmu, lolos atau pun tidak. Walau aku tau, hati kecilku tidak rela kamu lolos, dan aku tau, kamu pasti ingin lolos. Dan kemarin, saat aku melihat tawamu aku merasa sungguh egois. Kamu tidak bisa menyembunyikan kebanggaanmu, dan aku mestinya bahagia bersamamu bukannya malah berlari ke kamar mandi dan menangis di sana seperti seorang pengecut.
Aku malu mengakui, namun aku takut. Aku takut dengan kamu naik setingkat lebih tinggi maka kita akan satu level lebih jauh dan itu menjadi awal perpisahan kita. Apa itu berarti aku tidak percaya padamu? Tidak percaya pada rasa sayangmu kepadaku? Ya. Jujur ku katakan, terlalu berat untuk mempercayai seorang yang begitu hebat sepertimu memilih seorang gadis yang biasa-biasa saja, bahkan memiliki banyak kekurangan. Aku hanya bicara realita. Realitanya kamu memiliki banyak pilihan di luar sana. Dan untuk apa bertahan padaku yang biasa-biasa saja?

Senin, 28 April 2014

Surat Untukmu yang Minggu Ini Sangat Sibuk

Hai, kamu. Iya, kamu yang minggu ini sedang sangat sibuk. Bagaimana harimu? Bagaimana kondisimu saat ini? Masihkah kamu mengeluh atas kehidupan perkuliahanmu? Semangat lah, Sayangku. Seperti yang pernah kamu bilang, kamu tidak sendiri. Kamu masih memilikiku, selalu. Setelah minggu ini, semua kesibukan itu berakhir Sayang. Bersabarlah. Hanya sampai akhir minggu ini saja dan beban berat itu akan terangkat dari pundakmu. Kamu bisa kembali fokus pada kehidupan kuliahmu, dan aku. Bersabar dan tetap semangat, Sayangku.
Maaf karena hari ini aku tidak bisa datang untuk memberi semangat untukmu. Maafkan aku, Sayangku. Ntah mengapa aku sama sekali tidak berniat hadir di sana, menjadi bagian dari keramaian itu. Satu-satunya alasanku ingin datang hari ini hanyalah demi kamu, demi mengantarkan sebatang coklat dan sekaleng kopi langsung ke tanganmu. Tapi keadaan tidak mengizinkan, maafkan aku Sayang.
Aku tidak masalah kamu melupakanku sejenak. Fokuslah pada kesibukanmu. Aku sungguh bisa mengerti keadaanmu. Yang terpenting jangan pernah melupakan ibadah lima waktu dan makan tiga kali sehari. Jaga kesehatanmu, dan jaga hatimu. Aku tidak bisa terus ada di sana untuk menemani dan memastikan kamu dan hatimu baik-baik saja. Yang bisa aku lakukan hanya menemanimu dalam doa, berharap Tuhan selalu menjagamu.
Semangat, Sayang. Aku menyayangimu, selalu :)

Selasa, 22 April 2014

I Love You Even More

Seminggu ini berjalan dengan indah dan baik-baik saja. Bahkan bisa jadi minggu ini adalah minggu paling indah selama 7 minggu kebersamaan kita. Tentu saja aku berharap minggu-minggu ke depan akan lebih indah, paling tidak seindah minggu ini. Kalau dulu hubungan kita penuh dengan tawa, dan beberapa minggu terakhir penuh dengan air mata, maka minggu ini hubungan kita penuh dengan cinta. Terimakasih, Sayang. Terimakasih, Cinta atas segala perubahanmu. I love you more everyday.
Sejujurnya melupakan pengakuanmu waktu itu bukanlah perkara mudah. Bagaimana bisa kamu dengan ringannya berkata kamu menghilang hanya karena bosan? Dan pada saat itu ketakutanku terbukti, aku mati rasa. Aku tidak lagi menangis saat kamu berkata bosan. Aku hanya merasa masa bodoh. Kalau kamu bosan yasudah, silahkan lakukan caramu untuk menghilangkan bosan itu. Aku tidak lagi peduli. Bahkan saat kamu berkata kalau sebenarnya kamu belum bisa melupakan seseorang dari masa lalumu, aku hanya tertawa ringan. Tidak ada lagi rasa sakit, aku sepenuhnya mati rasa. Sampai saat itu, saat aku berkata kalau aku bisa saja mati rasa karena sikapmu dan kamu langsung menoleh kaget, meminta agar aku tidak melumpuhkan hatiku. Dan rasanya setelah detik itu semua berubah, kamu menjadi orang yang lebih baik, dan aku jauh-jauh lebih mencintaimu.
Aku bersyukur hari ini aku tidak lagi mati rasa. Aku kembali merasa bahagia saat bersamamu, kembali merasa rindu setiap detik tidak mendengar kabarmu, kembali merasa cemburu saat kamu bersama orang lain. Semuanya kembali, dan aku bahagia.
Terimakasih sudah merasa cemburu saat aku bersama orang lain, terimakasih atas segala omelanmu dan wajah kesalmu saat kamu cemburu, terimakasih atas segala ceritamu tentang masa depan, terimakasih karena berubah untuk aku, terimakasih telah menyempatkan waktumu untukku, terimakasih telah terbuka kepadaku, terimakasih atas segalanya, terimakasih telah memilihku. Dan belakangan aku sadar, aku memang tidak menyakitimu sesering kamu menyakitiku, tapi ternyata aku juga tidak menunjukkan cintaku padamu sebanyak kamu menunjukkan cintamu padaku. Aku menuntut keseriusan tapi tidak pernah menunjukkan keseriusanku padamu padahal kamu sendiri sudah beberapa kali mengatakan keseriusanmu (yang maaf, kadang masih kusangsikan). Dan aku baru tersadar saat kamu menuntut keseriusanku. Aku tersentak, karena nyatanya aku tidak pernah berkata aku serius menjalani ini semua. Terimakasih, Sayang. Terimakasih karena berkata kalau kamu serius menjalani hubungan kita. Terimakasih untuk harapan 'cinta kita untuk selamanya'. Terimakasih telah menjadi orang pertama yang menawarkan masa depan untukku. Terimakasih telah menunggu sampai kita menjadi halal satu sama lain. Terimakasih telah menawarkan menulis impian bersama. Aku mencintaimu, selalu, setiap harinya.

Jumat, 18 April 2014

Karena Kamu Tidak Pernah Mengerti

Kamu yang tidak pernah mengerti, atau aku yg terlalu menuntut? Selama ini aku berusaha bersabar. Namun mengapa kita selalu berakhir dengan pertengkaran?
Aku yang terlalu penakut, atau kamu yg terlalu susah untuk dipercaya? Mengapa sampai detik ini begitu susah mempercayai kalau kamu tidak akan pergi begitu saja?
Mungkin ya, trauma itu terlalu membekas. Mungkin ya, aku memang sangat dan terlalu mencintaimu sampai pada kadar yg tidak dapat aku mengerti lagi. Aku terlalu menyayangimu hingga aku tak paham apa yang membuatku selalu mengalah.
Sejujurnya malam ini pun aku masih bersyukur atas air mata yang menetes ini. Karena aku takut air mata ini akan berhenti menetes dan pada titik itu aku benar-benar pergi meninggalkanmu.
Kamu ingin tau alasanku tidak menyetujui ajakanmu malam ini? It's simply simple, aku cemburu dan aku ketakutan. Aku terlalu takut melihat kenyataan yang akan menyakitiku. Dan alasan lainnya? Aku lelah. Aku hanya ingin berbaring dan beristirahat. Melupakan hari yg sibuk dan berat ini dan bersiap menyambut esok hari. Namun selalu, dan selalu, aku gagal mengkomunikasikannya. Aku selalu berakhir menjadi orang yang salah atas apa yg aku lakukan, sekalipun aku tidak bermaksud begitu. Tidak hanya denganmu, bahkan ibuku tidak paham apa mau dan maksudku.
Tidakkah kamu sadar aku cemburu melihat kamu bisa berbagi masalahmu dengan orang lain, sementara padaku kamu hya diam dan berpura pura semua baik baik saja. Kalau hanya tawa yang kamu bagi kepadaku, jadi sesungguhnya kamu anggap aku ini apa? Itulah mengapa aku menjadi defensif belakangan ini dan tidak pernah bercerita masalahku kepadamu. Saat aku tau kegiatanmu dari orang lain, apa kamu tidak tau betapa itu menyakitkan? Jadi sebenarnya, kita ini apa?

Kamis, 10 April 2014

Aku Tau, Kita Tidak Baik-Baik Saja

Kita baik-baik saja kan? Tolong katakan ya, kita baik-baik saja. Sudahlah, aku tau kenyataannya dan keadaannya. Kita tidak sedang baik-baik saja. Mengapa? Bisa kah kamu jelaskan apa yang sebenarnya salah? Bisa kah kamu beri kejelasan ada apa sebenarnya denganmu beberapa hari belakangan ini? Mengapa aku merasa kamu menjauh? Mengapa aku merasa kamu tidak lagi dapat kugapai, tepat di saat aku merasa kita semakin dekat. Tepat di saat aku menemukan kenyamanan dan keamanan pada dirimu. Aku tidak mau saat itu menjadi saat pertama dan terakhir aku bersandar di bahumu. Aku tidak mau sapaan hangat pagi kemarin adalah sapaan hangat terakhir darimu. Aku tidak mau candaan semalam adalah candaan terakhir darimu. Sesunggunya kemana kamu? Sudah lebih dari 12 jam kamu menghilang. Begitu susahkah memberi kabar kepadaku kalau kamu baik-baik saja? Aku khawatir, aku takut, aku tidak mau kehilangan kamu secara tiba-tiba.
Aku tidak akan mengekangmu, atau menghalangi kebahagiaanmu. Bukankah selama ini selalu seperti itu? Aku selalu mengalah, membiarkanmu dan duniamu dan tidak pernah mengeluh walau kamu melupakanku. Masih belum cukupkah itu bagimu?
Aku pernah ditinggalkan tanpa kabar, aku pernah dilupakan tanpa pamit, dan aku masih ingat persis bagaimana sakitnya. Karena itu tolong, jangan lakukan hal yang sama padaku. Bila kamu ingin pergi, setidaknya tolong beri aku kabar, tolong beri aku kejelasan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi padamu?

Senin, 31 Maret 2014

Almost A Month

Hai, sudah hampir sebulan kita memulai hubungan ini. Sedikit banyak aku mulai bisa menyebutmu 'milikku' karena semua yang sudah kita lalui sudah tidak lagi bisa dikatakan kalau kita hanya berteman. Namun mengapa aku semakin sering merasa kalau kita semakin jauh? Benarkah begitu atau itu hanya perasaanku mengingat kesibukanmu sekarang semakin rapat bahkan tidak lagi meninggalkan jeda untukku?
Terkadang aku merindukan masa-masa dulu. Masa saat aku merasa kita lebih dekat daripada saat ini. Masa saat kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mebicarakan sesuatu yang tidak penting di telepon. Masa saat kita bisa menghabiskan seharian berjalan-jalan keliling kota. Masa saat kita lebih banyak tertawa. Semoga ini hanya perasaanku saja. Semoga kamu, dan kita, tidak berubah.
Dan dalam waktu sebulan ini aku akhirnya sadar, kita membawa hubungan ini ke arah yang berbeda. Kamu mengartikan 'serius' di awal hubungan kita dengan cara yang berbeda dengan aku mengartikan 'serius' itu. Bagiku serius berarti kita tidak main-main dengan hubungan ini. Kita akan membawanya ke arah yang lebih jauh, ke jenjang yang lebih tinggi saat sudah waktunya nanti. Namun nampaknya itu hanya anganku. Aku tidak tau makna serius bagimu itu apa, namun yang aku tau, aku bukanlah orang terakhir di hidupmu. Sejak awal kamu sudah berstatement kalau pada saatnya nanti aku akan meninggalkanmu, dan aku sudah lelah berusaha menampik pendapat itu, karena kamu tidak akan mau mendengar. Itu berarti, sejak awal kamu sudah yakin kalau pada akhirnya kita akan berpisah, sangat bertolak belakang dengan aku yang yakin kita akan bahagia bersama. Kamu pun tidak pernah suka bila aku menangis karenamu. Berbeda dengan laki-laki lain yang akan meminta maaf, kamu justru marah bila aku menangisimu karena kamu merasa kamu bukan siapa-siapaku. Dan saat kamu berkata kalau kamu bukan siapa-siapaku, aku tersentak. Jadi begitulah kamu menilai hubungan kita. Dan di titik itu aku tersadar, hubungan kita hanya untuk sementara. Jadi untuk apa aku terlalu memakai perasaanku? Untuk apa aku terlalu mencintaimu yang pada akhirnya kita akan berpisah? Haha, itu teori. Karena pada akhirnya aku akan selalu menuruti semua maumu dan mengalah pada semua maksudmu.
Masih ada empat hari sebelum satu bulan kita. Aku berharap empat hari ini akan berjalan dengan lancar dan baik- baik saja. Selamat satu bulan (lebih awal) untuk kita :)

Selasa, 25 Maret 2014

Are We Officially Dating?

Kita ini apa? Kadang aku pun tidak bisa menjawabnya. Sudah nyaris tiga minggu berlalu sejak malam itu. Aku masih mengingatnya dengan jelas saat kamu menyatakan menyukaiku dan ingin menjalin hubungan yang serius tentang kita. Tapi dengan banyak syarat yang langsung kuiyakan pada saat itu. Namun sekarang aku mulai merasa terkadang syarat darimu memberatkanku. Aku pun tak tau mengapa. Apa kamu yang berubah, atau aku yang menjadi terlalu banyak menuntut?
Sekarang yang dapat kulakukan hanya bersabar dan berdoa agar kamu tidak melupakanku. Aku yang masih akan selalu menunggu di tempat yang sama dengan sabar. Aku yang tidak akan berhenti menyayangimu seperti yang pernah kamu ragukan. Aku tidak akan lagi menyerah seperti yang dulu pernah terbersit di benakku. Aku akan memperjuangkanmu. Aku akan berkorban untukmu. Aku akan melakukan segalanya agar kamu tetap untukku.
Aku tidak masalah dengan segala kesibukanmu yang membuatku harus sabar menunggu sampai kamu bisa meluangkan sedikit waktumu untukku. Aku tidak masalah, asal kamu tetap kembali padaku. Aku tau duniamu begitu membahagiakan dan kamu pun begitu mencintainya, karena itu aku tidak ingin ikut campur di dalamnya karena aku takut aku terkesan terlalu menuntut bagimu. Aku tau kamu tidak suka urusanmu dicampuri. Aku tau kamu tidak suka wanita yang terlalu mengekang. Karena itu aku berusaha menjadi seperti yang kamu inginkan.
Aku tidak masalah saat kamu meminta jangan ada siapapun yang mengetahui hubungan kita. Aku tidak masalah sama sekali karena kamu pun sudah menerangkan alasannya padaku, dan sekali lagi aku berusaha mengerti. Tapi pernahkah kamu membayangkan apa efeknya untukku? Saat aku tidak bisa bercerita ke siapapun di saat kita ada masalah, pernahkah kamu membayangkan bagaimana perihnya harus menanggung semuanya sendiri? Kita adalah dua pribadi yang sangat berbeda, karena itu jangan samakan bagaimana cara kita dalam menanggung masalah. Sadarkah kamu aku menjadi seseorang yang semakin melankolis setelah kita memulai-ntah-apa-namanya-hubungan-ini. Karena aku terpaksa menyimpan semuanya sendiri. Aku tidak bisa menyalurkan emosiku ke siapapun. Dan aku pun tidak bisa membebanimu dengan masalahku yang lain karena aku tau kamu sudah terlalu pusing memikirkan masalahmu sendiri.
Aku berusaha tidak protes saat kamu mengeluh tidak suka apabila aku terus-terusan bertanya apa kesibukanmu hari ini. Kamu merasa aku tidak percaya padamu? Padahal tidak sedikitpun aku berpikir kamu akan mendua atau apapun yang ada di benakmu itu. Aku hanya tersiksa menunggu kabarmu di saat aku tidak tau apa yang sedang kamu lakukan. Apabila aku tau kamu sedang rapat atau apalah itu, setidaknya aku akan tenang dan tidak akan menunggu kabarmu. Sekali lagi, aku berusaha mengerti.

Minggu, 12 Januari 2014

Aku Lelah, Boleh Aku Menyerah?

Aku lelah berharap. Aku lelah dengan kita yang semakin lama semakin dekat, namun justru semakin tidak jelas. Aku lelah dengan kita yang terus berputar di lingkaran yang sama, lingkaran ketidakjelasan. Aku lelah merasa tidak aman setiap hari, takut kau akan pergi pada hari itu. Aku lelah terus menangisi alasan yang sama, lagi dan lagi. Aku lelah menanti kamu bisa menyisihkan waktu luangmu untukku. Aku lelah dengan kita. Mungkin saat ini aku sudah ada dalam tahap aku lelah mencintaimu.
Cinta? Bisakah kusebut ini cinta bila nyatanya apa yang kita jalani ini tidak bernama. Aku tidak bilang aku berusaha sendiri. Tidak. Aku tau kamu sudah sangat baik, teramat baik. Mungkin kamu pun memperjuangkan kita. Namun untuk beberapa saat aku seringkali merasa aku berjuang sendiri.
Mengapa kamu terlihat malu mengakui apa yang sedang kita jalani? Kamu selalu diam di depan mereka, kadang aku merasa kamu menganggapku tak ada. Tapi saat mereka tak ada kamu akan berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Kamu akan menjadi orang yang sangat perhatian. Orang yang sanggup membuatku jatuh cinta berkali-kali padamu. Boleh kukatakan kamu bermuka dua? Sebegitu memalukannya kah untuk mengakui bahwa memang ada sesuatu yang lebih di antara kita?
Maaf bila aku membuatmu malu. Maaf bila yang bisa kulakukan hanya menyusahkanmu. Maaf belum bisa membuatmu bahagia. Maaf belum bisa menjadi yang terbaik bagimu. Dan maaf, karena saat ini aku lelah mencintaimu.
Aku lelah, bolehkah aku menyerah?

Minggu, 05 Januari 2014

Ada yang Sakit di Sini, di Hati ini.

Ada yang sakit di sini, di hati. Ada yang aneh. Hatiku masih sering berkata aku akan segera kehilanganmu. Justru di saat kita semakin dekat. Justru di saat orang-orang mulai tahu ada sesuatu yang lebih di antara kita. Ya, aku memang pesimis akan hubungan ini. Bukan aku meragukanmu, hanya saja aku merasa pesimis kalau ini akan berakhir bahagia. Yah, aku masih trauma dengan hubungan terakhir yang kutempuh. Hubungan yang tidak bertahan lebih lama dari 3 bulan, namun menyisakan perih yang terus membekas sampai setengah tahun sesudahnya. Aku takut kehilanganmu. Dan semakin aku menyadari kalau aku semakin menyayangimu setiap harinya, hatiku semakin sakit. Rasa cinta ini bukannya menyisakan rasa hangat di hati melainkan meninggalkan rasa sakit yang menusuk. Untuk kali ini, aku tidak ingin kehilanganmu. Selamanya. Sungguh, satu kali kehilangan lagi dan ntahlah hidupku akan berserakan lagi mungkin.