Minggu, 12 Januari 2014

Aku Lelah, Boleh Aku Menyerah?

Aku lelah berharap. Aku lelah dengan kita yang semakin lama semakin dekat, namun justru semakin tidak jelas. Aku lelah dengan kita yang terus berputar di lingkaran yang sama, lingkaran ketidakjelasan. Aku lelah merasa tidak aman setiap hari, takut kau akan pergi pada hari itu. Aku lelah terus menangisi alasan yang sama, lagi dan lagi. Aku lelah menanti kamu bisa menyisihkan waktu luangmu untukku. Aku lelah dengan kita. Mungkin saat ini aku sudah ada dalam tahap aku lelah mencintaimu.
Cinta? Bisakah kusebut ini cinta bila nyatanya apa yang kita jalani ini tidak bernama. Aku tidak bilang aku berusaha sendiri. Tidak. Aku tau kamu sudah sangat baik, teramat baik. Mungkin kamu pun memperjuangkan kita. Namun untuk beberapa saat aku seringkali merasa aku berjuang sendiri.
Mengapa kamu terlihat malu mengakui apa yang sedang kita jalani? Kamu selalu diam di depan mereka, kadang aku merasa kamu menganggapku tak ada. Tapi saat mereka tak ada kamu akan berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Kamu akan menjadi orang yang sangat perhatian. Orang yang sanggup membuatku jatuh cinta berkali-kali padamu. Boleh kukatakan kamu bermuka dua? Sebegitu memalukannya kah untuk mengakui bahwa memang ada sesuatu yang lebih di antara kita?
Maaf bila aku membuatmu malu. Maaf bila yang bisa kulakukan hanya menyusahkanmu. Maaf belum bisa membuatmu bahagia. Maaf belum bisa menjadi yang terbaik bagimu. Dan maaf, karena saat ini aku lelah mencintaimu.
Aku lelah, bolehkah aku menyerah?

Minggu, 05 Januari 2014

Ada yang Sakit di Sini, di Hati ini.

Ada yang sakit di sini, di hati. Ada yang aneh. Hatiku masih sering berkata aku akan segera kehilanganmu. Justru di saat kita semakin dekat. Justru di saat orang-orang mulai tahu ada sesuatu yang lebih di antara kita. Ya, aku memang pesimis akan hubungan ini. Bukan aku meragukanmu, hanya saja aku merasa pesimis kalau ini akan berakhir bahagia. Yah, aku masih trauma dengan hubungan terakhir yang kutempuh. Hubungan yang tidak bertahan lebih lama dari 3 bulan, namun menyisakan perih yang terus membekas sampai setengah tahun sesudahnya. Aku takut kehilanganmu. Dan semakin aku menyadari kalau aku semakin menyayangimu setiap harinya, hatiku semakin sakit. Rasa cinta ini bukannya menyisakan rasa hangat di hati melainkan meninggalkan rasa sakit yang menusuk. Untuk kali ini, aku tidak ingin kehilanganmu. Selamanya. Sungguh, satu kali kehilangan lagi dan ntahlah hidupku akan berserakan lagi mungkin.