Senin, 28 April 2014

Surat Untukmu yang Minggu Ini Sangat Sibuk

Hai, kamu. Iya, kamu yang minggu ini sedang sangat sibuk. Bagaimana harimu? Bagaimana kondisimu saat ini? Masihkah kamu mengeluh atas kehidupan perkuliahanmu? Semangat lah, Sayangku. Seperti yang pernah kamu bilang, kamu tidak sendiri. Kamu masih memilikiku, selalu. Setelah minggu ini, semua kesibukan itu berakhir Sayang. Bersabarlah. Hanya sampai akhir minggu ini saja dan beban berat itu akan terangkat dari pundakmu. Kamu bisa kembali fokus pada kehidupan kuliahmu, dan aku. Bersabar dan tetap semangat, Sayangku.
Maaf karena hari ini aku tidak bisa datang untuk memberi semangat untukmu. Maafkan aku, Sayangku. Ntah mengapa aku sama sekali tidak berniat hadir di sana, menjadi bagian dari keramaian itu. Satu-satunya alasanku ingin datang hari ini hanyalah demi kamu, demi mengantarkan sebatang coklat dan sekaleng kopi langsung ke tanganmu. Tapi keadaan tidak mengizinkan, maafkan aku Sayang.
Aku tidak masalah kamu melupakanku sejenak. Fokuslah pada kesibukanmu. Aku sungguh bisa mengerti keadaanmu. Yang terpenting jangan pernah melupakan ibadah lima waktu dan makan tiga kali sehari. Jaga kesehatanmu, dan jaga hatimu. Aku tidak bisa terus ada di sana untuk menemani dan memastikan kamu dan hatimu baik-baik saja. Yang bisa aku lakukan hanya menemanimu dalam doa, berharap Tuhan selalu menjagamu.
Semangat, Sayang. Aku menyayangimu, selalu :)

Selasa, 22 April 2014

I Love You Even More

Seminggu ini berjalan dengan indah dan baik-baik saja. Bahkan bisa jadi minggu ini adalah minggu paling indah selama 7 minggu kebersamaan kita. Tentu saja aku berharap minggu-minggu ke depan akan lebih indah, paling tidak seindah minggu ini. Kalau dulu hubungan kita penuh dengan tawa, dan beberapa minggu terakhir penuh dengan air mata, maka minggu ini hubungan kita penuh dengan cinta. Terimakasih, Sayang. Terimakasih, Cinta atas segala perubahanmu. I love you more everyday.
Sejujurnya melupakan pengakuanmu waktu itu bukanlah perkara mudah. Bagaimana bisa kamu dengan ringannya berkata kamu menghilang hanya karena bosan? Dan pada saat itu ketakutanku terbukti, aku mati rasa. Aku tidak lagi menangis saat kamu berkata bosan. Aku hanya merasa masa bodoh. Kalau kamu bosan yasudah, silahkan lakukan caramu untuk menghilangkan bosan itu. Aku tidak lagi peduli. Bahkan saat kamu berkata kalau sebenarnya kamu belum bisa melupakan seseorang dari masa lalumu, aku hanya tertawa ringan. Tidak ada lagi rasa sakit, aku sepenuhnya mati rasa. Sampai saat itu, saat aku berkata kalau aku bisa saja mati rasa karena sikapmu dan kamu langsung menoleh kaget, meminta agar aku tidak melumpuhkan hatiku. Dan rasanya setelah detik itu semua berubah, kamu menjadi orang yang lebih baik, dan aku jauh-jauh lebih mencintaimu.
Aku bersyukur hari ini aku tidak lagi mati rasa. Aku kembali merasa bahagia saat bersamamu, kembali merasa rindu setiap detik tidak mendengar kabarmu, kembali merasa cemburu saat kamu bersama orang lain. Semuanya kembali, dan aku bahagia.
Terimakasih sudah merasa cemburu saat aku bersama orang lain, terimakasih atas segala omelanmu dan wajah kesalmu saat kamu cemburu, terimakasih atas segala ceritamu tentang masa depan, terimakasih karena berubah untuk aku, terimakasih telah menyempatkan waktumu untukku, terimakasih telah terbuka kepadaku, terimakasih atas segalanya, terimakasih telah memilihku. Dan belakangan aku sadar, aku memang tidak menyakitimu sesering kamu menyakitiku, tapi ternyata aku juga tidak menunjukkan cintaku padamu sebanyak kamu menunjukkan cintamu padaku. Aku menuntut keseriusan tapi tidak pernah menunjukkan keseriusanku padamu padahal kamu sendiri sudah beberapa kali mengatakan keseriusanmu (yang maaf, kadang masih kusangsikan). Dan aku baru tersadar saat kamu menuntut keseriusanku. Aku tersentak, karena nyatanya aku tidak pernah berkata aku serius menjalani ini semua. Terimakasih, Sayang. Terimakasih karena berkata kalau kamu serius menjalani hubungan kita. Terimakasih untuk harapan 'cinta kita untuk selamanya'. Terimakasih telah menjadi orang pertama yang menawarkan masa depan untukku. Terimakasih telah menunggu sampai kita menjadi halal satu sama lain. Terimakasih telah menawarkan menulis impian bersama. Aku mencintaimu, selalu, setiap harinya.

Jumat, 18 April 2014

Karena Kamu Tidak Pernah Mengerti

Kamu yang tidak pernah mengerti, atau aku yg terlalu menuntut? Selama ini aku berusaha bersabar. Namun mengapa kita selalu berakhir dengan pertengkaran?
Aku yang terlalu penakut, atau kamu yg terlalu susah untuk dipercaya? Mengapa sampai detik ini begitu susah mempercayai kalau kamu tidak akan pergi begitu saja?
Mungkin ya, trauma itu terlalu membekas. Mungkin ya, aku memang sangat dan terlalu mencintaimu sampai pada kadar yg tidak dapat aku mengerti lagi. Aku terlalu menyayangimu hingga aku tak paham apa yang membuatku selalu mengalah.
Sejujurnya malam ini pun aku masih bersyukur atas air mata yang menetes ini. Karena aku takut air mata ini akan berhenti menetes dan pada titik itu aku benar-benar pergi meninggalkanmu.
Kamu ingin tau alasanku tidak menyetujui ajakanmu malam ini? It's simply simple, aku cemburu dan aku ketakutan. Aku terlalu takut melihat kenyataan yang akan menyakitiku. Dan alasan lainnya? Aku lelah. Aku hanya ingin berbaring dan beristirahat. Melupakan hari yg sibuk dan berat ini dan bersiap menyambut esok hari. Namun selalu, dan selalu, aku gagal mengkomunikasikannya. Aku selalu berakhir menjadi orang yang salah atas apa yg aku lakukan, sekalipun aku tidak bermaksud begitu. Tidak hanya denganmu, bahkan ibuku tidak paham apa mau dan maksudku.
Tidakkah kamu sadar aku cemburu melihat kamu bisa berbagi masalahmu dengan orang lain, sementara padaku kamu hya diam dan berpura pura semua baik baik saja. Kalau hanya tawa yang kamu bagi kepadaku, jadi sesungguhnya kamu anggap aku ini apa? Itulah mengapa aku menjadi defensif belakangan ini dan tidak pernah bercerita masalahku kepadamu. Saat aku tau kegiatanmu dari orang lain, apa kamu tidak tau betapa itu menyakitkan? Jadi sebenarnya, kita ini apa?

Kamis, 10 April 2014

Aku Tau, Kita Tidak Baik-Baik Saja

Kita baik-baik saja kan? Tolong katakan ya, kita baik-baik saja. Sudahlah, aku tau kenyataannya dan keadaannya. Kita tidak sedang baik-baik saja. Mengapa? Bisa kah kamu jelaskan apa yang sebenarnya salah? Bisa kah kamu beri kejelasan ada apa sebenarnya denganmu beberapa hari belakangan ini? Mengapa aku merasa kamu menjauh? Mengapa aku merasa kamu tidak lagi dapat kugapai, tepat di saat aku merasa kita semakin dekat. Tepat di saat aku menemukan kenyamanan dan keamanan pada dirimu. Aku tidak mau saat itu menjadi saat pertama dan terakhir aku bersandar di bahumu. Aku tidak mau sapaan hangat pagi kemarin adalah sapaan hangat terakhir darimu. Aku tidak mau candaan semalam adalah candaan terakhir darimu. Sesunggunya kemana kamu? Sudah lebih dari 12 jam kamu menghilang. Begitu susahkah memberi kabar kepadaku kalau kamu baik-baik saja? Aku khawatir, aku takut, aku tidak mau kehilangan kamu secara tiba-tiba.
Aku tidak akan mengekangmu, atau menghalangi kebahagiaanmu. Bukankah selama ini selalu seperti itu? Aku selalu mengalah, membiarkanmu dan duniamu dan tidak pernah mengeluh walau kamu melupakanku. Masih belum cukupkah itu bagimu?
Aku pernah ditinggalkan tanpa kabar, aku pernah dilupakan tanpa pamit, dan aku masih ingat persis bagaimana sakitnya. Karena itu tolong, jangan lakukan hal yang sama padaku. Bila kamu ingin pergi, setidaknya tolong beri aku kabar, tolong beri aku kejelasan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi padamu?