Jumat, 23 Mei 2014

Pagi Hari Setelah Kamu Naik Setingkat Lebih Tinggi

Aku tidak tahu harus memulai dari mana.Yang aku tau pasti, aku selalu gelisah lebih dari seminggu ini. Berdoa dan berdoa, walau aku tidak yakin pasti apa yang sesungguhnya aku inginkan. Dan aku sudah menangis dua hari belakangan.Walau aku memakai topeng senyum palsu, tapi aku kembali menangis saat aku teringat lukaku. Dan aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus menangis. Mungkin sampai aku ikhlas, dan saat ini aku berusaha untuk ikhlas.
Selamat untukmu, yang sekali lagi naik tingkat. Setingkat lebih tinggi. Setingkat lebih hebat. Setingkat lebih sempurna. Dan banggakah aku memiliki pacar sehebat kamu? Saat kamu dapat mencapai suatu prestasi yang tidak sembarang orang dapat mencapainya. Mereka bilang aku seharusnya bangga. Tapi tidak, sejujurnya tidak ada sedikit pun kebanggaan di hatiku. Aku malah menangis. Aku tidak tahu, rasanya hatiku berantakan. Katakanlah aku egois, namun aku tau, dengan kamu naik tingkat, maka kita tidak akan sedekat belakangan ini. Dan aku tau, semua mimpiku dan semua yang pernah kamu cetuskan untuk tahun depan kita hanyalah rencana. Dan selain itu, aku tidak merasa pantas untuk berbangga. Mereka bilang dibalik pria hebat ada wanita yang selalu mendukungnya. Namun aku merasa kehebatanmu adalah hasil kerja kerasmu sendiri. Aku tidak turut andil sedikit pun di dalamnya.Aku memang selalu mendukungmu, dan ke depannya nanti aku akan masih selalu mendukungmu, tapi aku seringkali merasa sesungguhnya dukunganku tidak berarti. Tanpaku pun kamu masih akan baik baik saja. Jadi bagaimana bisa aku bangga atas sesuatu yang tidak aku lakukan?
Sejak kamu bercerita kalau kamu akan mendaftar di sana, sejak hari itu aku gelisah. Apalagi saat kamu bercerita konsekuensinya kepadaku. Aku semakin gelisah. Namun aku bisa apa? Satu-satunya yang bisa aku lakukan hanya mendukungmu, karena aku tau yang kamu butuhkan adalah dukungan. Dan sejak saat itu setiap sujudku dipenuhi dengan doa untukmu. Untuk segala yang terbaik untukmu, lolos atau pun tidak. Walau aku tau, hati kecilku tidak rela kamu lolos, dan aku tau, kamu pasti ingin lolos. Dan kemarin, saat aku melihat tawamu aku merasa sungguh egois. Kamu tidak bisa menyembunyikan kebanggaanmu, dan aku mestinya bahagia bersamamu bukannya malah berlari ke kamar mandi dan menangis di sana seperti seorang pengecut.
Aku malu mengakui, namun aku takut. Aku takut dengan kamu naik setingkat lebih tinggi maka kita akan satu level lebih jauh dan itu menjadi awal perpisahan kita. Apa itu berarti aku tidak percaya padamu? Tidak percaya pada rasa sayangmu kepadaku? Ya. Jujur ku katakan, terlalu berat untuk mempercayai seorang yang begitu hebat sepertimu memilih seorang gadis yang biasa-biasa saja, bahkan memiliki banyak kekurangan. Aku hanya bicara realita. Realitanya kamu memiliki banyak pilihan di luar sana. Dan untuk apa bertahan padaku yang biasa-biasa saja?