Senin, 25 Agustus 2014

Kembali. Jangan Pergi. Aku Menunggu.

Aku tidak tau harus menuliskan apa. Yang aku tau, aku sudah menangis untuk setidaknya tiga hari. Dan ntahlah, mungkin masih ada hari yang tersisa untuk aku menangis. Aku takut. Hari ini yang aku rasakan hanya takut. Aku takut kehilanganmu. Namun aku juga takut mengekangmu. Memaksamu untuk bertahan di saat keyakinanmu untukku sudah tak bersisa. Aku terlalu mencintaimu. Tanpa sedikit pun keraguan, aku sangat mencintaimu. Sejak dulu, walau orang-orang mempertanyakan hubungan kita, walau mereka bilang kamu kekanakkan, walau mereka ragu kita akan bertahan, aku tidak pernah ragu. Segala alasanmu, segala masalahmu, segala kekurangan yang kamu ceritakan padaku pun tidak membuatku ingin mundur. Aku bertahan untukmu. Aku bertahan dengan segala kekuranganmu. Karena aku cinta. Sesederhana itu. Dan lalu semua menjadi lebih baik. Sangat lebih baik. Segala janjimu, segala rencana masa depan kita, segala doa dan harapan kita untuk masa depan yang lebih baik. Semua hal yang melibatkan 'kita'. Dan lalu badai ini datang. Meremukkan, menghancurkan, dan menggoyahkan. Aku takut kamu goyah. Aku takut kamu ragu dan akhirnya merasa bahwa akan lebih baik kalau tidak ada kita. Aku takut.
Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu. Dan ada begitu banyak perasaan berkecamuk di hatiku. Aku lelah. Jujur ku akui, aku lelah. Aku lelah setiap memejamkan mata selalu ada bayangan hal-hal manis yang telah kita lalui. Aku lelah, setiap suasana terasa sunyi rasanya aku dapat mendengar suaramu dan segala janji manismu. Aku lelah menangisimu terus dan terus. Aku lelah namun aku tidak bisa beristirahat. Aku tidak dapat tidur nyenyak. Bagaimana bisa aku tidur bila hatiku terluka dan selalu menunggu kabar darimu? Bagaimana bisa aku tertidur bila setiap ada suara dari HPku aku selalu terperanjat lalu kembali terluka, karena itu bukan kamu. Sejujurnya, apa yang terjadi? Di manakah kamu? Ada apa denganmu? Tolong jujurlah. Bila masih ada kesempatan untuk kita, mari berjuang bersama. Namun bila sudah tak ada, katakan agar aku tidak terus berharap. Tolong, jangan ada yang disembunyikan. Setidaknya untuk saat ini kita masih sepasang kekasih kan?
Aku tidak tau apa salahku sehingga kau begini. Apa hanya karena keributan kecil hari itu? Hanya karena aku selalu menerima semua keputusanmu tanpa ragu? Hanya karena kamu menganggapku tidak punya pendirian? Hanya karena itu? Atau karena keluhan kesalku sore itu? Keluhan kesal yang sudah kuakhiri dengan maaf namun kamu menyambutnya dengan marah dan diam. Diammu yang berujung sampai hari ini. Empat hari setelah kejadian itu.
Atau hanya karena kamu butuh waktu untuk sendiri? Sendiri untuk merenungkan semua masalahmu. Lalu sebenarnya aku bertanya, apa gunanya aku? Bukankah aku ada di sampingmu untuk membantumu meringankan masalahmu? Atau jangan-jangan kamu terlalu malu membagi masalahmu denganku? Kamu malu dan takut aku pergi karena masalahmu? Bukankah sudah berkali-kali kubilang, tidak pernah terbersit niat untuk pergi seberat apapun masalahmu. Karena kamu adalah sebagian diriku, maka mestinya masalahmu pun dapat kutanggung dan kubantu untuk menyelesaikannya bersama. Namun, seperti biasanya, hari ini pun aku mengalah. Aku mengalah dan membiarkan pesan singkatku hanya dibaca tanpa dibalas. Aku mengalah dan mendukungmu diam-diam dalam doa. Aku mengalah dan memberimu waktu selama yang kau butuhkan.
Masihkah kamu meragu kalau aku akan bertahan bersamamu seburuk apapun kondisinya? Aku tidak peduli seberat apapun masalahmu. Aku tidak peduli walau mungkin kehidupanku bersamamu tidak secukup kehidupanku saat ini. Aku tidak peduli walau aku harus bekerja, mengorbankan apa yang kusuka demi membantumu membangun keluarga kecil kita. Dan mungkin harus kuingatkan sekali lagi, aku tidak pernah memandangmu dari segi materi. Tidak pernah. Aku tidak mengerti mengapa kamu masih saja menganggap bahagiaku adalah materi. Aku tidak paham. Bukankah sudah ratusan kali kukatakan, aku mencintaimu dan aku percaya bahwa kita bisa bahagia bersama, bagaimana pun keadaannya.
Dan sampai hari ini pun, setelah nyaris seminggu kita hanya diam. Aku masih menunggu. Menunggu sampai kamu akan bercerita apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sebenarnya kau rasakan. Menunggu janjimu saat kau berkata bahwa kita akan membicarakan ini suatu saat nanti. Semoga hal ini, air mata ini, risau ini, tidak berakhir buruk bagi kita Sayang. Semoga segalanya yang terbaik untuk kita, semoga.