Senin, 08 September 2014

Hari Ini, Satu Tahun yang Lalu

Hari ini, satu tahun yang lalu tepat pada jam yang sama saat aku menulis ini, aku mungkin sedang tidur nyenyak tanpa sadar bahwa hari itu aku akan bertemu dengan seseorang yang sangat berharga. Seseorang yang akan menemaniku di tahun-tahun setelahnya, seseorang yang akan membuatku berubah menjadi lebih baik, seseorang itu kamu.
Yang aku ingat, malam itu adalah malam pertama aku kembali ke rantau setelah menghabiskan libur dua bulan di rumah. Malam pertama selalu menjadi yang terberat. Aku masih sangat merindukan rumah, dan masih ada rasa lelah yang tersisa setelah sebelumnya menghadiri rapat tepat setelah aku meletakkan koper yang masih belum tersentuh di kamar kostan. Aku masih belum bisa menerima kenyataan, setelah dua bulan hanya makan-tidur-internetan-bermalas-malasan, aku harus kembali ke rutinitas normal. Kuliah dan rapat hingga malam setiap harinya. Apalagi sebenarnya libur yang kupunya masih bersisa dua minggu, atau bahkan lebih lama. Namun aku harus kembali lebih awal sebagai pertanggung jawabanku sebagai pengurus organisasi dan konseptor ospek jurusan di kampus.
Aku ingat sekali, aku baru kembali ke rantau tanggal 25 Agustus 2013, dan setelah menaruh barang-barang di kostan aku langsung berganti pakaian, sholat Maghrib, lalu berangkat ke kampus untuk menghadiri rapat konseptor ospek jurusan. Aku ingat sambutan yang diberikan saat aku tiba. Anak hilang yang sekian lama tidak hadir rapat karena pulang kampung akhirnya tiba. Dan lalu aku mendapat kabar untuk datang jogging dan sarapan bersama esok harinya bersama pengurus inti organisasi yang kuikuti. Organisasi yang melibatkan kamu di dalamnya.
Dan pagi harinya, pagi hari di tanggal yang sama dengan hari ini, aku sudah berangkat sejak pagi dari kostan. Bersama sahabatku yang adalah ketua organisasi kita. Dan masih belum ada satu orang pun yang datang. Pada akhirnya kamu menjadi orang keempat yang datang hari itu. Kamu datang terlambat. Datang saat matahari sudah tinggi dan sudah tidak mungkin jogging dengan sinar matahari sepanas itu. Kamu dengan sikap serampangan dan menyebalkanmu langsung meminta kunci sekretariat pada kami bertiga yang memilih menghabiskan waktu mengobrol di luar ruang sekretariat. Bahkan saat ketua organisasi kita mengenalkanmu padaku, kamu hanya mengangkat wajah sekilas dengan wajah tidak peduli. Sungguh, dengan sikap seperti itu siapa sangka kita akan menjadi seperti ini sekarang. Siapa sangka kamu ternyata adalah orang yang sangat perhatian. Siapa sangka detik ini, setelah satu tahun berlalu aku sangat menyayangimu.

--- tulisan ini ditulis 26 Agustus 2014 ---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar