Kamis, 11 Desember 2014

Mengeluarkan Semua Racun

Malam ini racun-racun di dalam otak dan hati merasa perlu dikeluarkan. Lelah teramat sangat, terlalu lama ditumpuk hingga akhirnya jadi racun yang mengarat. Racun yang paling besar dimulai bulan lalu. Saat kamu tiba-tiba menghilang. Tiba-tiba pergi kemudian mempermaikan hatiku selama dua minggu. Dan saat kamu kembali, apa yang terjadi? Aku bersikap biasa saja, baik-baik saja. Menanggapi sapaan ceriamu dengan senyum. Menanggapi ceritamu dengan anggukan ramah, seakan tidak ada yang terjadi. Padahal siapa yang tau pada saat itu hatiku berdarah? Sejak detik itu, aku tidak pernah baik-baik saja. Aku marah kepada diriku sendiri yang begitu mudahnya menerimamu kembali. Padahal, aku bisa marah dan membentak mereka yang mengalami hal yang sama denganku dan begitu bodohnya masih memaafkan. Dan aku tau, kamu menghilang bukan untuk yang terakhir. Akan ada lagi saat seperti itu, dan aku masih akan menerimamu dengan tangan terbuka.
Tapi tunggu. Nyatanya sebagian hatiku tertutup. Ia lelah disakiti, lelah dengan kamu yang seperti ini. Dan aku kehilangan hampir semua yang membangun hubungan kita dulu, hanya menyisakan cinta. Iya, aku masih mencintaimu, aku masih menyayangi tanpa ragu, tapi aku kehilangan kepercayaan, kehilangan sebagian kepedulian, kehilangan mimpi, dan selalu diburu rasa takut.
Sejak detik itu, aku tidak pernah mempercayaimu sepenuhnya. Semua mimpi itu, semua harapan untuk menikah 2,5 tahun lagi, untuk membangun keluarga bersamamu, aku tidak pernah benar-benar percaya sepenuhnya. Bila dulu aku menelannya mentah-mentah, tidak dengan saat ini. Bagaimana aku bisa percaya kalau sebagian hatiku masih merasa kamu akan kembali menghilang? Bagaimana aku bisa mencita-citakan menghabiskan hidup bersamamu, kalau sebagian otakku sibuk berpikir apa alasan yang akan aku utarakan kepada anak kita nanti saat kamu tidak pulang ke rumah? Dan sejujurnya, sebagai seorang wanita pun ada perasaan tidak percaya yang lebih besar dari itu. Aku tidak percaya kamu mau menghabiskan hidupmu bersamaku, aku yang tidak cantik, tidak seksi seperti yang kamu mau. Dan semua itu cukup menjadi racun untuk membuatku menjaga jarak. Aku juga tidak ingin kehilangan kepercayaan seperti ini. Apalagi sejak terakhir kali itu, aku merasa sebenarnya kamu sudah berubah menjadi lebih baik, hanya saja masih susah melupakan rasa sakit yang aku rasakan. Kamu mungkin tidak tahu, karena pada saat itu hidupmu baik-baik saja, tapi bagiku saat itu hidupku dijungkir balikkan.
Kamu pernah merasakan menangis setiap malam selama dua minggu? Kamu pernah merasakan begitu sedih sampai kamu tidak peduli apa yang ada di sekitarmu? Sampai kamu tidak sadar saat itu dosen sedang menerangkan materi kuliah dan yang kamu lakukan hanya duduk diam dan menangis sendirian. Kamu pernah merasakan menangis histeris di tengah keramaian karena orang yang paling kamu sayangi menganggapmu tidak ada? Kamu pernah merasakan tidak bisa tidur berhari-hari dan pada akhirnya kamu harus minum obat alergi setiap malam hanya karena kamu ingin tidur dan melupakan semuanya? Kamu pernah merasakan sakit hati karena apa yang kamu lakukan nyatanya tidak dihargai? Kamu pernah merasa tidak mampu sendiri, selalu menempel kesana kemari dengan orang lain, karena kamu tau detik saat kamu sendiri, maka detik itu pula kamu akan mulai menangis? Kamu pernah merasakan hidupmu kehilangan arah, bahkan kamu tidak peduli kalaupun pada hari itu kamu sama sekali tidak makan? Kamu pernah begitu lelah menangis, begitu lelah berpikir apa salahmu hingga kamu akhirnya jatuh tidur dalam tangis dan bangun dengan badan yang demam karena terlalu banyak tekanan? Kamu pernah ada di fase begitu lelah dan akhirnya memilih untuk menyendiri, meninggalkan orang-orang dan memilih menghabiskan waktu dengan dirimu sendiri? Aku sudah melewati semua itu, dan banyak luka lainnya, karena kamu. Hanya karena dua minggu itu, aku begitu hancur. Kamu bisa membiarkanku memelukmu dengan hangat pada malam sebelumnya, berkata kamu menyayangiku pada pagi harinya, lalu tiba-tiba menghilang dan berkata sudah tidak mampu bertahan malam harinya. Kemudian seminggu kemudian kamu berkata bahwa kita baik-baik saja dan kamu perlu waktu untuk sendiri. Beberapa hari kemudian kamu berkata bahwa kamu masih menyayangiku dan menyuruhku berhenti menangis. Kamu tau, aku lelah. Sangat. Sangat lelah dengan dramamu mempermaikan perasaanku, dengan dramamu yang pergi minta dicari lalu kembali seakan kamu tidak ada salah. Namun kembali lagi, aku terlalu menyayangimu hingga aku selalu mengalah. Dan akan selalu seperti itu. Tapi aku butuh untuk kembali percaya lagi. Aku tidak mau melanjutkan hidup dengan racun ini setiap hari. Bangun dengan rasa takut kamu akan menghilang. Menghabiskan waktu bersama padahal hati sudah tidak percaya. Aku tidak mau, dan aku tidak akan mampu. Aku takut bila ini terus-terusan berjalan maka akhirnya aku akan menyerah, karena aku bosan.
Tolong, hari ini kembali lah. I need you the most. Aku butuh kamu, tolong peluk aku dan katakan bahwa kita baik-baik saja. Tolong berjanjilah untuk tidak akan kembali menghilang, karena aku sudah lelah dengan racun ini. Karena aku sudah nyaris menyerah berusaha mengeluarkan racun ini sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar