Sabtu, 22 Agustus 2015

I Fell In Love, with The Girl I Don't Know

Hello again. It's been a long time. Aku selalu menulis saat kami memiliki masalah. Dan selama sekian bulan terakhir aku tidak menulis, bukan berarti aku tidak memiliki masalah dengannya. Kami masih sama, masih terkadang ribut karena hal kecil. Dia pun masih sama, masih sering jarang memberi kabar. Begitu pun aku masih sama, masih menangis karena hal kecil. Lalu ada apa lagi hari ini sampai aku memutuskan kembali menulis? Sudah lama sebenarnya aku ingin kembali menulis, tapi segala kesibukan dan kemageran menjadi penghambat. Dan hari ini pun aku ingin menulis bukan karena lagi-lagi kami bermasalah, walau ya, saat tulisan ini diketik aku sedang menangis. Kita skip saja alasan tangisan itu, mungkin akan kutulis lain kali.
Hari ini aku baru pertama kali mendengar nama Lang Leav. Hmm sebenarnya aku ragu ini untuk pertama kalinya karena saat aku membaca beberapa puisinya, rasanya terdengar akrab, tapi untuk hari ini pertama kalinya aku sadar tentang Lang Leav. Bahkan terbersit untuk membeli buku kumpulan puisinya dan menyesal, kenapa waktu ke Singapura kemarin tidak mencari buku Lang Leav yg notabene harganya lebih murah dibanding di Indonesia? Namun kemudian aku terpengaruh komentar negatif review buku Lang Leav dan merasa, hmm di pinterest banyak quotesnya kok, baca di pinterest saja, dan lagi tidak semua puisinya aku suka haha. Memang tidak semuanya aku suka, tapi ada beberapa puisi yg sangat aku sukai, hingga rasanya ingin aku cetak dan pasang di dinding kamar wkwkwk. Untuk ulangtahunku, kalau ada yg bersedia memberi buku Lang Leav, akan kuterima dengan senang hati! Hahaha.
And here there are some Lang Leav paragraph that I love. Yeah, I am not into her poem, but I am falling in love with here paragraph of broken heart. It clearly said everything every broken hearted girl can't say.





"You may have lost them suddenly, unexpectedly. Or perhaps you began losing pieces of them until one day, there was nothing left. ... And though I can't promise it will get better any time soon, I can tell you that it will -- eventually." - Lang Leav

Ini adalah paragraf pertama Lang Leav yang membuatku jatuh cinta pada tulisannya. Aku tersentil dengan kenyataan bahwa nyatanya kehilangan ada dua jenis. Kehilangan yang tiba-tiba, dan kehilangan yang perlahan. Jujur bagiku kehilangan yang tiba-tiba lebih terasa menyakitkan, karena tanpa penjelasan, tanpa kesempatan untuk menariknya kembali. Sementara kehilangan yang perlahan, selalu ada kesempatan untuk menyiapkan hati, untuk mencegahnya, dan untuk menariknya kembali. Tapi yang manapun, tidak ada yang pernah bilang bahwa patah hati tidak menyakitkan. Siapa yang berani bilang begitu? Mungkin ia belum pernah merasakan perihnya patah hati. Karena tidak ada obat penghilang rasa sakitnya, karena sakitnya tidak nampak sampai kita tidak tahu bagian mana yang harus diobati. Namun bagaimanapun, sesakit-sakitnya, akan selalu ada masanya kita terbangun tidak lagi dengan air mata, melainkan rasa ikhlas dan rasa sakit itu perlahan akan hilang, mungkin bukan karena kita sudah sembuh, tapi karena kita sudah terbiasa dengan pedihnya.


I smiled when read this paragraph. Iya senyum, senyum miris. Karena seluruh paragraf ini sangat sesuai dengan keadaanku sekarang. Detik ini. Bukan atas air mata yang aku sebutkan tadi. Sekarang aku sedang di tengah-tengah kesibukan pindahan. Dan itulah ajaibnya pindahan, selalu ada hal-hal yang sudah kita lupakan mendadak muncul kembali. Dan ada juga hal-hal yang penuh kenangan namun harus kita ikhlaskan. Masih ingat ceritaku dengan Nino? Aku menemukan beberapa lembar berkas saat kami sama-sama menjadi panitia. Dan aku hanya tersenyum mengingatnya. Mengingat saat-saat itu. Saat kami sama-sama sibuk, saat aku adalah tempatnya bersandar, saat dia adalah tempatku bercerita. Dan mungkin, mungkin, sekarang bagi dia pun aku hanyalah catatan usang yang terlupakan di bagian bawah laci, atau selembar foto tua yang ada di sela-sela halaman buku.




Saat membaca ini aku langsung teringat kamu. Kamu yang membuatku lupa bagaimana rasanya kehilangan. Dua tahun bersama kamu, aku merasa aman, karena walau kadang kamu pergi sementara, namun kamu tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Aku sudah lupa bagaimana rasanya sakit hati karena kehilangan, sakit yang membuatku tidak bisa berhenti menangis, seperti yang dulu pernah aku rasakan. Dan saat aku membaca ini, sekian bagian hatiku bagai diremas. Aku sedikit mengingat rasa sakitnya, dan aku tau, apabila aku kehilanganmu rasa sakitnya pasti akan seperti ini. Seperti semua ucapan selamat tinggal yang dikumpulkan jadi satu, dan dilempar ke wajahku dengan keras. Mungkin itu akan jadi ucapan selamat tinggal paling menyakitkan. Jadi tolong, jangan pernah pergi, jangan pernah meninggalkanku, karena aku tidak akan pernah mau tau rasanya kehilanganmu.




Sekali lagi, paragraf ini menyentilku. Tentang mencintai seseorang lebih dalam daripada kamu mencintai dirimu sendiri. Dan memang, setimpal dengan rasa bahagianya, apabila orang itu juga mencintaimu kembali, rasa sakitnya pun sama banyaknya. Itu sama saja dengan mengorbakan jiwamu untuk orang itu, membiarkannya mempermainkan hatimu semaunya. Walau ia juga mencintaimu, tidak ada jaminan ia mampu menjaga hatimu sebaik kamu menjaga hatimu sendiri. Bisa bayangkan sakitnya? Bagai kaki patah seorang balerina, yang sangat mencintai balet hingga baginya kakinya itu tidak ada apa-apa dibanding besar rasa cintanya. Bisa bayangkan perihnya? Namun bagaimanapun, walau tau bagaimana perihnya, aku pun masih sama, masih tetap mencintai kamu lebih daripada mencintai diriku sendiri. Dan walau aku teorinya, nyatanya aku membiarkan kamu menyakiti hatiku, karena kadang kamu tidak tau bagaimana cara terbaik menjaganya, tidak sebaik aku menjaga hatimu. Dan ya, mungkin aku harus belajar mencinta diriku sendiri, agar kamu tidak lagi bisa mempermainkan hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar